
TULARKAN ILMU: Kebun hidroponik menjadi lahan pembelajaran anak-anak PAUD binaan.
GELATO Tapos atau Glatos lebih dari sekadar kafe. Kebun hidroponik yang menjadi pemasok kebutuhan utama dapur kafe itu juga menjadi wahana pembelajaran bagi bocah-bocah pendidikan anak usia dini (PAUD).
Gemercik air yang mengairi tanaman hidroponik di kebun Glatos menambah sejuk suasana. Saung-saung yang berjajar di bawah naungan pohon petai, mangga, rambutan, dan salam itu membuat pengunjung betah. Apalagi, ada rumah pohon yang juga bisa menjadi tempat makan.
Owner Glatos Rama Chandra mengatakan bahwa kafenya memang mengusung konsep farm-to-table. "Sebenarnya, kebun hidroponiknya ada lebih dulu, baru kafe,” terangnya saat ditemui di Glatos pada Jumat (8/9) lalu. Dulunya, lahan yang kini menjadi kafe itu adalah sekolah Indonesia Heritage Foundation (IHF). Namun, sekolah itu pindah lokasi pada 2020.
Setelah itu, mulailah Rama membuat kebun hidroponik di lahan seluas 1.500 meter persegi. Kebun tersebut menjadi tempat pelatihan dan pembelajaran hidroponik untuk sekitar 25 hingga 30 PAUD yang menjadi binaan mereka. Hasil panen biasanya mereka konsumsi sendiri, dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, atau dijual. ”Ekonomi waktu itu lagi sulit,” ucapnya.
HASIL KEBUN: Sayuran pelengkap burger berasal dari tanaman sendiri.
Pada 2021, Rama mendirikan Glatos. Menu utama mereka saat itu adalah gelato atau es krim dan burger. Gelatonya dibuat dari pakcoy, daun mint, markisa, dan buah mulberry. "Itu semua dari kebun sendiri. Kami olah menjadi gelato,” ucapnya. Belakangan, atas saran dari para pelanggan, gelato Glatos lebih dominan menggunakan buah-buahan.
Menu-menu lain yang disajikan Glatos juga diolah dari hasil kebun. Terutama sayuran. Ada jus sehat bertajuk Good Mood yang bahan utamanya pakcoy. Selada pelengkap burger dan basil untuk pizza juga dipanen dari kebun sendiri.
Kini Glatos juga punya restoran Jepang dengan nama OYA atau Oishi Yassai. Lokasinya persis di samping kafe. Bahan utama menu yang disajikan di sana pun diambil dari kebun hidroponik Glatos. Nasi di sana dicampur dengan jus bayam sehingga warnanya hijau. "Jadi, tidak ada nasi putih,” ucapnya.
Selain kualitas bahan-bahan utamanya terjamin karena diambil dari kebun sendiri, Glatos juga tidak mematok harga yang terlalu tinggi untuk tiap sajiannya. Makanan berat dibanderol sekitar 30 ribu–40 ribu rupiah. Sedangkan, gelatonya mulai dari harga 15 ribu rupiah.
Sampai saat ini, Glatos masih memberikan pelatihan untuk anak-anak PAUD binaan di sekitar lokasinya. Irazzudin, penanggung jawab kebun hidroponik dan mentor pelatihan, mengatakan bahwa pembelajaran hidroponik masih rutin. Biasanya, saat panen, Glatos akan mengundang masyarakat binaan. ”September ini kami akan panen. Nanti kami adakan acara,” paparnya. (lum/c6/hep)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
