
Ilustrasi berbuka puasa bersama keluarga. (Freepik)
JawaPos.com-Puasa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Di balik itu, tubuh melakukan banyak penyesuaian yang ternyata berdampak baik pada kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembatasan makan dan minum selama lebih dari dua belas jam mendorong tubuh melakukan adaptasi, mulai dari perubahan penggunaan energi hingga penyesuaian denyut jantung.
Dalam penelitian bertajuk “Effects of Fasting in Ramadan on Tropical Asiatic Moslems” yang diterbitkan dalam British Journal of Nutrition oleh peneliti dari University of Malaya, ditemukan bahwa selama Ramadhan terjadi penurunan berat badan serta peningkatan pembakaran lemak sebagai sumber energi utama. Selain itu, tubuh juga bekerja lebih hemat energi saat tidak mendapat asupan makanan.
Secara lengkapnya, berikut ini adalah 5 fakta ilmiah mengenai manfaat puasa berdasarkan temuan penelitian tersebut.
1. Berat Badan Turun secara Alami
Selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sebagian orang mengalami penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena tubuh menggunakan cadangan energi yang tersimpan ketika tidak ada asupan makanan dalam waktu lama.
Meski demikian, jika setelah Ramadhan pola makan kembali berlebihan, berat badan dapat kembali seperti semula. Karena itu, menjaga pola makan tetap seimbang sangat penting.
2. Tubuh Lebih Banyak Membakar Lemak
Saat tidak mendapatkan makanan selama lebih dari dua belas jam, tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Artinya, lemak yang tersimpan dalam tubuh mulai dipakai untuk membantu aktivitas sehari-hari.
Berkurangnya lemak berlebih dapat membantu menurunkan risiko penyakit metabolik, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, serta mendukung kesehatan jangka panjang. Inilah salah satu alasan mengapa puasa sering dikaitkan dengan pembakaran lemak tubuh.
3. Denyut Jantung Cenderung Lebih Tenang
Studi juga menemukan adanya penurunan denyut jantung saat istirahat. Kondisi ini menunjukkan tubuh bekerja lebih efisien dan tidak terlalu “dipacu” seperti saat asupan makanan rutin masuk.
Bagi orang yang sehat, perubahan ini termasuk normal dan merupakan bagian dari penyesuaian tubuh terhadap perubahan pola makan. Namun, jika denyut jantung menurun secara berlebihan dan disertai gejala seperti pusing, lelah berlebihan, atau pingsan, kondisi tersebut perlu diwaspadai dan dikonsultasikan kepada dokter.
4. Tidak Otomatis Menyebabkan Dehidrasi Berat
Banyak orang khawatir puasa dapat menyebabkan dehidrasi parah. Meski tidak minum selama lebih dari dua belas jam, penelitian tidak menemukan adanya defisit cairan yang signifikan.
Hal itu menunjukkan bahwa tubuh mampu mempertahankan keseimbangan cairan selama asupan air saat sahur dan berbuka tercukupi. Temuan ini menegaskan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan di luar waktu puasa untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
