
Ilustrasi cara mendapatkan sahur yang sehat dan baik untuk mendukung ibadah puasa Ramadhan.
JawaPos.com - Puasa Ramadhan dinilai dapat menjadi solusi gaya hidup sehat sekaligus sarana efektif mengontrol pola konsumsi di tengah budaya masyarakat yang semakin konsumtif. Akibatnya, banyak penyakit tidak menular yang tumbuh akibat gaya hidup yang tak sejat tersebut.
Ketua Umum Rumah Aktivis Institute, Andri Nurkamal, menegaskan bahwa puasa bukan hanya ritual keagamaan, melainkan model pembentukan kesehatan fisik, mental, dan spiritual secara menyeluruh. Dlam ajaran Islam, aktivitas makan dan minum tidak dipahami sekadar kebutuhan biologis. Ia menyebut ada dimensi etika yang mengatur bagaimana seseorang mengelola konsumsi.
“Dalam khazanah pemikiran Islam, persoalan konsumsi dan pengendalian nafsu menempati posisi fundamental dalam pembentukan kualitas manusia,” ujarnya, Rabu (4/3).
Ia menambahkan bahwa Islam tidak hanya mengatur apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana, kapan, dan sejauh mana konsumsi dilakukan.
“Kerangka normatif ini menunjukkan bahwa kesehatan dalam Islam sejak awal diposisikan sebagai hasil dari tata kelola diri yang bermoral, bukan sekadar persoalan medis,” kata Andri.
Dalam konteks tersebut, puasa Ramadhan dinilai memiliki peran sentral. Andri menegaskan puasa tidak dapat dipandang sebatas ibadah simbolik tahunan.
“Puasa tidak dapat direduksi sebagai ritual ibadah tahunan yang bersifat individual dan simbolik. Ia merupakan mekanisme pedagogis profetik yang dirancang untuk membentuk kesadaran diri,” jelasnya.
Menurutnya, puasa menjadi latihan sistematis dalam pengendalian dorongan instingtif yang berkaitan langsung dengan pola hidup dan kesehatan. Ia menilai relevansi puasa semakin kuat di tengah meningkatnya kasus obesitas, diabetes, gangguan metabolik, hingga stres kronis akibat pola konsumsi berlebihan.
“Berbagai problem kesehatan kontemporer—seperti obesitas, diabetes, gangguan metabolik, dan stres kronis—tidak dapat dilepaskan dari kegagalan manusia dalam mengelola relasi dengan konsumsi,” tuturnya.
Andri juga mengutip dasar teologis puasa dalam Al-Qur’an yang ada dalam surat Al-Baqarah ayat 183. Ia menjelaskan bahwa tujuan puasa agar menjadi taqwa berkaitan erat dengan kesadaran pengendalian diri dalam konsumsi.
Selain itu, ia menekankan bahwa puasa tidak dimaksudkan untuk memberatkan atau merusak tubuh. Sebab dalam praktiknya, pengendalian konsumsi juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
“Tidak ada wadah yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2380),” ujar Andri.
Ia menilai prinsip tersebut menjadi fondasi etika konsumsi yang relevan hingga kini. Menurutnya, melalui pembatasan waktu makan saat puasa, tubuh dilatih agar tidak berada dalam kondisi kenyang terus-menerus.
Selain aspek fisik, puasa disebut memiliki fungsi protektif terhadap perilaku dan emosi. Ia menambahkan bahwa puasa melatih regulasi emosi dan pengendalian diri dalam interaksi sosial.
“Saum Ramadhan membentuk disiplin tubuh, stabilitas emosi, dan keseimbangan hidup melalui pengendalian konsumsi dan penguatan kesadaran moral,” tegas Andri.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
