
Ilustrasi dua orang perempuan sedang memanipulasi seorang gadis (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula pemahaman dan logika manusia. Kita perlahan-lahan dapat memahami sesama dan mengetahui apa yang membuat seseorang lebih unik daripada orang lain.
Manusia mulai mengenali berbagai sifat dan sikap sesamanya, dan menyadari mana sifat dan sikap yang benar serta salah. Dari situ akan ada reaksi untuk membetulkan yang salah, atau menghapus kesalahan tersebut.
Ilmu psikologi dan psikiatri mengenali adanya kepribadian yang berbeda, salah satunya adalah beberapa bentuk dari kelainan kepribadian antisosial (ASPD). Dua bentuk ASPD yang paling dikenali, tapi sering salah dipahami adalah sosiopat dan psikopat.
Dunia perfilman seringkali meromantisasi kedua kepribadian itu tanpa benar-benar mengetahuinya. Oleh kerena itu, para penonton juga sering salah mendiagnosa orang-orang di sekitar mereka, hanya karena mereka menunjukkan kemiripan.
Psikopatik
Dilansir dari Cleveland Clinic, psikopatik secara tradisional dipandang sebagai bentuk ASPD terparah dengan resiko besar adanya kekerasan.
Buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) mengkategorikan psikopati sebagai sebuah varian ASPD, dan dapat dikenali dengan sifat-sifat ini:
Dilansir dari laman kemalarikan.com, dr. Kemal Arikan menjelaskan bahwa orang-orang yang terdiagnosa psikopat memang seringkali menjadi pelaku kriminal.
Mereka memiliki gaya interpersonal yang manipulatif, dari situ sering berdampak buruk pada kehidupan, pekerjaan dan hubungan mereka dengan orang lain. Orang-orang dengan psikopati cenderung memanipulasi orang-orang di sekitar mereka. Bahkan mampu mempermainkan emosi orang-orang terdekat mereka.
Dalam kata lain, psikopatik adalah kepribadian egosentris yang ditandai dengan tidak adanya rasa penyesalan atas tindakan seseorang, kurangnya empati, dan cenderung melakukan kejahatan.
Dilansir dari Simply Psychology, kepribadian ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada tahun 1806, dr. Phillipe Pinel, seorang dokter dari Perancis, menyebut kondisi ini "maniaque sans delire", atau kegilaan yang disadari.
Lalu, sepanjang abad ke 19 hingga 20, istilah populer di Amerika Serikat dan Inggris terhadap kondisi ini adalah "kegilaan bermoral."
Sosiopatik
Kepribadian sosiopatik sering menunjukkan kebiasaan manipulatif, seperti gaslighting, serta kesulitan untuk mengontrol emosi dan kesadaran sosial. Sosiopatik sering berkaitan dengan pelanggaran normal sosial dan penolakan akan sikap yang diterima baik oleh publik.
Sosiopatik juga dikenal sebagai kelainan kepribadian antisosial, yang membuat pemilik kondisi ini tidak dapat memahami perasaan orang lain.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
