Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Mei 2025 | 16.14 WIB

Pernah Nyeri Perut Parah? Awas Bisa Jadi Pankreatitis, Yuk Kenali Gejala dan Penanganannya!

Ilustrasi terkena pankreatitis (Freepik) - Image

Ilustrasi terkena pankreatitis (Freepik)

JawaPos.com - Menjaga kesehatan tubuh tentunya harus mengubah pola hidup dan kebiasaan sehari-hari. Hal tersebut berperan besar dalam menjaga kesehatan organ tubuh, termasuk pankreas.

Sebagai organ vital yang membantu pencernaan dan mengatur kadar gula darah, pankreas sering kali luput dari perhatian, hingga muncul masalah peradangan pada pankreas atau pankreatitis. Kondisi ini bisa dipicu oleh pola makan yang buruk, konsumsi alkohol, atau faktor lainnya.

Jika tidak ditangani dengan baik, pankreatitis dapat berujung pada komplikasi serius. Pankreatitis sendiri terbagi menjadi dua jenis berdasarkan durasi dan intensitasnya.

Pertama, Pankreatitis Akut. Pankreatitis akut adalah peradangan yang muncul secara tiba-tiba dan menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat.

“Pankreatitis akut biasanya ditandai dengan nyeri di bagian tengah perut, tetapi kadang juga dapat dirasakan di sisi kanan atau kiri. Rasa sakitnya bisa menjalar ke dada dan punggung, serta cenderung memburuk saat berbaring setelah makan, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak,” jelas dr. Lukas Mulyono Samuel, Sp.PD-KGEH Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hati dan Saluran Cerna di Mayapada Hospital Bandung.

Selain itu, terdapat gejala lain seperti demam, gangguan pencernaan, diare, mual, muntah, serta pembengkakan perut dan sangat nyeri saat disentuh. Kulit dan mata juga dapat menguning, menandakan adanya masalah pada hati atau saluran empedu. Tak jarang penderita pankreatitis akut mengalami peningkatan detak jantung yang tidak normal yang disebut takikardia.

“Gejala tersebut dipicu oleh berbagai penyebab, salah satunya batu empedu yang menyumbat saluran pankreas dan memicu peradangan. Sekitar 40 persen kasus pankreatitis akut disebabkan oleh batu empedu, sementara 30 persen lainnya dipicu oleh konsumsi alkohol berlebihan. Selain itu, pankreatitis juga bisa terjadi karena faktor genetik seperti cystic fibrosis, kadar trigliserida yang tinggi, efek samping obat-obatan, atau bahkan infeksi virus,” jelas dr. Lukas.

Jenis yang kedua yaitu Pankreatitis Kronis yang berkembang secara perlahan dan menyebabkan kerusakan permanen pada pankreas. Penderitanya dapat mengalami nyeri perut yang berat dan berulang, terasa seperti terbakar di bagian tengah atau kiri perut, dan sering menjalar hingga ke punggung.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Gastroenterologi Hepatologi Mayapada Hospital Tangerang, dr. Hendra Nurjadin, Sp.PD-KGEH menjelaskan, kerusakan pankreas yang terjadi pada pankreatitis kronis akan menghentikan fungsi pankreas, yang berarti produksi hormon insulin dan enzim pencernaan juga terhambat. "Sehingga menyebabkan komplikasi serius lainnya seperti diabetes dan gangguan pencernaan," terangnya.

Kondisi Pankreatitis dapat terdeteksi melalui beberapa pemeriksaan yang komprehensif, mulai dari tes darah untuk mengukur kadar enzim pencernaan seperti amilase dan lipase yang umumnya meningkat saat pankreatitis terjadi. Kemudian, pemeriksaan menggunakan USG, CT Scan, MRI, maupun Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP).

“ERCP adalah prosedur medis yang menggabungkan endoskopi dan sinar-X untuk mendeteksi batu empedu atau menilai tingkat keparahan pankreatitis. Prosedur ini umumnya direkomendasikan untuk pankreatitis akut yang disebabkan oleh batu empedu. Dengan menggunakan selang tipis berkamera (endoskop), dokter akan memasukkannya melalui mulut, lalu meneruskannya ke kerongkongan, lambung, hingga usus dua belas jari untuk mencapai saluran empedu dan pankreas,” jelas dr. Hendra.

“ERCP tidak hanya berfungsi untuk mendiagnosis, tetapi juga untuk mengatasi Pankreatitis dengan mengeluarkan atau menghancurkan batu empedu yang menyumbat saluran pankreas. Dapat pula dilakukan untuk melebarkan saluran empedu atau pankreas yang menyempit, memasang stent dan ring, bahkan mengambil sampel jaringan untuk pemeriksaan lebih lanjut jika ada kecurigaan kanker,” tambahnya.

Namun, langkah deteksi dini jauh lebih baik daripada mengobati. Jika memiliki faktor risiko Pankreatitis atau dirasa mengalami gejala-gejala Pankreatitis, maka segera lakukan pemeriksaan ke layanan khusus saluran pencernaan seperti Gastrohepatology Center Mayapada Hospital dengan pelayanan yang komprehensif mulai dari deteksi dan diagnosis, hingga penanganan dengan metode termutakhir, bersama tim dokter multidisiplin.
Booking layanan skrining saluran cerna di Gastrohepatology Center Mayapada Hospital dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi MyCare.

Bagi pasien dengan asuransi kesehatan, seperti Allianz, Mayapada Hospital memberi kemudahan layanan rawat jalan dan rawat inap secara non-tunai (cashless) bagi para nasabah di seluruh unit Mayapada Hospital. MyCare juga memberikan beragam informasi dan edukasi kesehatan terkini dalam fitur Health Articles & Tips.

Selain itu, pengguna MyCare dapat memantau aktivitas kebugaran melalui fitur Personal Health yang dapat memantau detak jantung, menghitung jumlah langkah kaki, jumlah kalori terbakar, dan indeks massa tubuh (BMI). MyCare dapat diunduh di Google Play Store dan App Store dengan bonus reward point pada saat registrasi pertama, yang bisa digunakan untuk potongan harga layanan di seluruh unit Mayapada Hospital.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore