
Calon jemaah haji Indonesia saat di Bir Ali. Mereka sudah mengenakan kain ihram dari hotel untuk mempercepat proses. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com - Jamaah haji Indonesia terus didorong dari Madinah menuju Makkah. Setibanya di Makkah, jamaah disambut cuaca yang cukup panas. dampaknya, jamaah rentan terserang heatstroke atau serangan panas.
Menurut prakiraan cuaca, suhu di Makkah rata-rata di atas 40 derajat celsius. Bahkan pada Jumat 23 Mei pekan depan, suhu bisa mencapai 48 derajat celsius. Jauh di atas rata-rata suhu terpanas di Indonesia sekalipun.
dr. Antonius Andi Kurniawan Sp.KO Subsp.ALK (k) dari Siloam Mampang mengatakan, di tengah cuaca panas itu, jamaah haji rawan terkena heatstroke. Serangan panas itu bisa memperparah kondisi jamaah haji yang sudah membawa penyakit penyerta dari tanah air.
"Harus sering minum. Jangan haus dulu baru minum. Kalau sudah haus itu dehidrasi," katanya dalam diskusi kesehatan dan olahraga di Jakarta pada Kamis (15/5) petang.
Bagi dia upaya untuk menghidrasi tubuh adalah bagian dari pendinginan. Termasuk menyemprotkan air ke wajah ketika sedang di bawah terik matahari langsung.
Kemudian yang tidak kalah penting adalah adaptasi dengan kondisi cuaca di Makkah. "Tubuh kita bisa beradaptasi dengan cuaca," lanjutnya.
Caranya adalah dengan sering berjalan kaki pada siang hari. Dalam konteks ibadah haji, jamaah sebelum diterbangkan ke Arab Saudi bisa latihan dahulu dengan memperbanyak aktivitas fisik.
"Lalu pertanyaannya, berapa lama tubuh kita bisa beradaptasi," katanya. Andi mengatakan, latihan supaya tubuh bisa adaptasi terhadap cuaca adalah dua minggu. Jadi tidak cukup dengan latihan jalan kaki atau sejenisnya dalam satu hingga dua hari saja.
Dia lantas menjelaskan apa itu heatstroke yang jadi ancaman serius jamaah haji maupun pelari atau masyarakat pada umumnya.
Dia mengatakan ketika seseorang beraktivitas di luar, termasuk berolahraga seperti lari dan lainnya, tubuh mengeluarkan panas.
Ketika dalam waktu bersamaan ditambah suhu luar ruangan yang panas, tubuh akan merespons dengan melakukan pendinginan.
Caranya yaitu dengan mengeluarkan keringat. Jika keringat sudah keluar banyak, sistem pengatur suhu di tubuh bisa rusak. Kondisi inilah yang disebut heatstroke.
"Yaitu rusaknya sistem pengatur suhu di tubuh. Kalau di mobil itu radiatornya rusak," katanya. Untuk itu, tubuh harus dijaga jangan sampai dehidrasi.
Kemudian sering-sering melakukan pendinginan dengan mengguyur atau menyemprotkan air. Serta latihan sebelumnya supaya tubuh bisa beradaptasi.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
