Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Mei 2025 | 03.16 WIB

1,2 Juta Porsi Makanan Siap Saji Disiapkan untuk Jemaah Indonesia di Puncak Haji

Tim BPKH menunjukkan makanan siap saji yang akan disediakan untuk jemaah Indonesia saat haji. (MCH 2025)


JawaPos.com
– Puncak haji tinggal menghitung hari. Wukuf di Arafah, yang direncanakan berlangsung pada 5 atau 6 Juni (9 Dzulhijah), kini hanya berjarak sekitar 8 hari dari Selasa (27/5).

Di balik kesibukan mempersiapkan pergerakan lebih dari 200 ribu jamaah, ada satu pekerjaan besar lain yang tak kalah penting: memastikan logistik makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan para tamu Allah selama masa puncak haji.

Sebanyak 1,2 juta lebih porsi makanan siap saji telah disiapkan oleh BPKH Limited, unit yang ditugaskan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) untuk pengadaan dan distribusi logistik pangan jemaah haji. Angka ini mencakup suplai bagi 203.320 jemaah yang akan ada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

“Kami menyiapkan enam porsi makanan siap saji untuk masing-masing jamaah, jadi totalnya lebih dari 1,2 juta porsi,” ujar Direktur BPKH Limited, Iman Nikmatullah di Mekah, Selasa (27/5).

Setiap jemaah menerima satu kardus berisi enam porsi: dua untuk sarapan, dan empat lainnya untuk makan siang dan makan malam. Rinciannya, makanan siap saji akan dibagikan untuk konsumsi pada tiga tanggal.

Pertama, 7 Dzulhijah (3 Juni) untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Lalu, 8 Dzulhijah (4 Juni) untuk sarapan sebelum berangkat ke Arafah. Terakhir, 13 Dzulhijah (9 Juni) untuk makan siang dan makan malam setelah jemaah kembali dari Mina

Imam menjelaskan, lauknya diproduksi dengan teknologi retort bertekanan dan temperatur tinggi di Indonesia, lalu dikirim ke Arab Saudi. Nasi serta nasi uduknya diproduksi di pabrik makanan siap saji Manaf milik penyedia layanan haji (syarikah) di Mekah, sebelum akhirnya direpackaging dan dikirim ke hotel-hotel jemaah.

“Lauknya ada enam jenis, termasuk rendang ayam, rendang daging, dan opor ayam,” jelas Imam. Dia memastikan, seluruh menu dirancang dengan citarasa Indonesia yang akrab bagi lidah jemaah.

“Kita perhatikan juga kandungan karbohidrat dan proteinnya, insyaallah mencukupi untuk kebutuhan gizi jemaah selama masa puncak haji,” tambahnya.

Menariknya, makanan ini dikemas sedemikian rupa sehingga awet hingga 18 bulan tanpa perlu pemanasan ulang. “Namun, untuk nasi, kalau mau lebih enak, kami sarankan direndam air panas 5–10 menit sebelum dimakan,” tutur Imam. Sementara lauknya, bisa langsung disantap tanpa dipanaskan.

Imam mengingatkan, setiap kemasan per sekali makan dibuat kedap dan higienis. Artinya, begitu kemasan dibuka, makanan harus segera dikonsumsi. Tidak boleh disisakan untuk dimakan di waktu berikutnya. “Ini demi menjaga kualitas dan keamanan makanan,” tegasnya.

Di balik suplai raksasa ini, Kemenag dan BPKH juga menyiapkan strategi distribusi yang rapat, agar semua paket makanan sampai tepat waktu dan merata ke seluruh jemaah.

“Mudah-mudahan jemaah haji dapat menikmati makanan siap saji ini dengan cara yang sehat, aman, dan tentu saja nikmat seperti seleranya Indonesia,” ujar Imam penuh optimisme.

Selain memikirkan perjalanan ibadah fisik jemaah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina, pemerintah Indonesia memastikan bahwa energi mereka tetap terjaga lewat makanan bergizi yang siap disantap di tengah kesibukan manasik. Di masa puncak ibadah seperti ini, detail kecil seperti makanan bukan sekadar soal logistik, tetapi juga soal kelancaran ibadah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore