
Dapur katering milik Ragheeb menjadi salah satu tempat produksi makanan untuk calon jemaah haji Indonesia. (Media Center Haji 2025)
JawaPos.com – Proses pemindahan jemaah haji Indonesia dari Madinah ke Makkah semakin intensif. Hingga Rabu (14/5) pukul 10.40 waktu Arab Saudi (WAS), sebanyak 24.465 jemaah dari 63 kloter telah tiba di Makkah.
Di tengah lonjakan kedatangan ini, logistik konsumsi menjadi tantangan penting yang harus dihadapi oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Untuk memastikan kebutuhan makan jemaah terpenuhi dengan baik, PPIH menyiapkan 55 dapur katering yang tersebar di Makkah.
Setiap dapur mampu memproduksi antara 3.500 hingga 5.000 porsi makanan per hari dengan menu khas Nusantara, yang sudah disesuaikan dengan standar gizi dan kesehatan.
Salah satu dapur tersebut adalah Ragheeb, yang terletak di kawasan Shauqiah, Makkah. Tim Media Center Haji (MCH) berkesempatan melihat langsung proses produksi di dapur ini.
Dari penataan bahan baku, proses masak, hingga pengemasan makanan, semua dilakukan dengan standar higienitas tinggi.
Agung Ilham, Konsultan Tenaga Ahli Konsumsi PPIH Arab Saudi, mengatakan bahwa setiap 11 dapur dikawal oleh satu tenaga ahli. “Jadi total ada lima tenaga ahli yang bertugas di Makkah, dan dua di Madinah,” jelasnya.
Semua bahan makanan, termasuk bumbu, diimpor dari Indonesia untuk menjaga konsistensi rasa dan standar kehalalan. Sistem pengawasan dilakukan secara ketat. Setiap dapur diwajibkan mengirim dua sampel makanan ke Daker dan dua ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) setiap harinya.
“Sampel makanan akan dicek gramasi, rasa, dan kualitasnya sebelum makanan didistribusikan ke hotel,” terang Agung.
Untuk saat ini, produksi masih terbatas sekitar 500 porsi per hari karena belum seluruh kloter tiba di Makkah. Namun angka ini akan terus meningkat mendekati puncak pelaksanaan haji.
Proses memasak juga dilakukan dengan sistematis dan terjadwal. Misalnya, untuk makan malam, bahan mulai dimasak pada pukul 12.00 WAS. Setelah proses pengemasan selesai, makanan ditempatkan dalam hotbox dan siap didistribusikan ke hotel jemaah pada pukul 16.00 WAS.
“Pukul 18.00 makanan sudah tiba di hotel dan bisa langsung dikonsumsi jemaah,” ujar Agung. Namun demikian, ada batas waktu konsumsi.
“Makanan siap saji ini maksimal dikonsumsi dalam waktu tiga jam setelah tiba. Untuk makan malam, jam 21.00 adalah batas akhirnya,” imbuhnya.
Menariknya, sebagian besar juru masak yang bekerja di dapur katering ini merupakan tenaga kerja dari Indonesia. Di dapur Ragheeb, misalnya, terdapat enam juru masak Indonesia yang berpengalaman. Setiap dapur diwajibkan memiliki setidaknya dua koki profesional dari Tanah Air.
Pengecekan kesiapan makanan dilakukan tiga kali dalam sehari:

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
