Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 00.07 WIB

Paspor Tertinggal di Indonesia, Kakek Hanafi dari NTB Bertahan 30 Jam di Bandara Madinah dalam Suhu Dingin

Kadaker Bandara Abdul Basir Didampingi Sekretaris Daker Bandara Ihsan Faisal dan Petugas Konjen RI mengantarkan Kakek Hanafi Abu Bakar ke hotel. (Media Center Haji 2025) - Image

Kadaker Bandara Abdul Basir Didampingi Sekretaris Daker Bandara Ihsan Faisal dan Petugas Konjen RI mengantarkan Kakek Hanafi Abu Bakar ke hotel. (Media Center Haji 2025)

JawaPos.com – Udara di dalam bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, terasa menusuk kulit. Di tengah dinginnya suhu dan keramaian lalu lintas internasional, seorang lelaki renta duduk sendirian di terminal kedatangan, tanpa jaket, tanpa paspor, dan tak bisa masuk ke imigrasi.

Ia adalah Hanafi Bakar Ali, 88, jemaah haji asal Desa Muwi Dalam, Kecamatan Ambalawi, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada Rabu (7/5) pagi pukul 08.00 Waktu Arab Saudi, ia tertahan di bandara karena paspornya tertinggal di Indonesia, tepatnya di dalam bus saat perjalanan dari Embarkasi Lombok menuju bandara.

Lebih dari 30 jam ia bertahan dalam suhu dingin, tanpa bisa ditemani petugas secara penuh karena posisinya yang berada di luar area imigrasi.

Kondisi ini tidak main-main. Selain faktor usia, Hanafi juga mengalami demensia ringan dan kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Namun, Hanafi tidak terlihat panik. Dalam pengakuannya kepada tim PPIH yang menemuinya, ia hanya tersenyum dan berkata singkat. “Alhamdulillah saya baik-baik saja,” katanya.

Kepala Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, yang memantau langsung kasus ini, menyebut kondisi Hanafi sebagai luar biasa.

“Kami tidak bisa mendampingi terus karena terbatas imigrasi. Tapi semangat beliau tidak goyah,” kata Basir.

Kabar hilangnya paspor pertama kali diketahui saat pesawat kloter LOP 5 sudah mengudara. Ketua Kloter LOP 6, Sudirman, menceritakan bahwa panitia embarkasi akhirnya menemukan paspor Hanafi tertinggal di dalam bus.

“Kami hubungi embarkasi. Setelah dicari, ternyata memang tertinggal di bagasi bus,” katanya.

Solusi akhirnya ditetapkan: paspor Hanafi dibawa oleh kloter berikutnya, LOP 6, yang dijadwalkan tiba pada Kamis (8/5) pukul 13.00 WAS.

Artinya, Hanafi harus menunggu di bandara sendirian lebih dari 30 jam, hanya dengan pakaian seadanya.

Di tengah dinginnya bandara, Kakek Hanafi tetap sabar, dan tidak mengeluh sedikit pun. Begitu paspor tiba, Basir sendiri yang menjemput dan mengantar langsung Hanafi ke hotel tempat rombongan LOP menginap. Saat itu, Hanafi tampak bahagia dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Kini, ia sudah kembali bersama kloternya. Usianya nyaris satu abad, tetapi semangatnya menunaikan rukun Islam kelima tetap menyala. Ia siap menjalani seluruh rangkaian ibadah haji, dengan hati penuh syukur dan keteguhan.

 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore