
Seorang remaja menatap layar ponsel sambil duduk di kamar gelap, mencerminkan kecemasan yang dipicu oleh konsumsi konten kesehatan mental di media sosial. (Dok. Canva)
JawaPos.com - Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, mulai dari Gaza hingga Ukraina. Layar ponsel dan komputer dipenuhi oleh gambar dan video memilukan.
Bagi sebagian pengguna media sosial, akses instan terhadap realitas brutal tersebut bisa berdampak serius pada kesehatan mental. Dampaknya juga dialami bagi mereka yang tidak berada di garis depan konflik. Inilah yang dikenal sebagai trauma sekunder.
Seperti dilansir dari laman Deutsche Welle (DW), fenomena ini terjadi ketika seseorang mengalami tekanan psikologis bukan karena mengalami kejadian traumatis secara langsung, tetapi karena menyaksikan penderitaan orang lain melalui media seperti foto atau video.
Meskipun istilah ini banyak digunakan dalam konteks profesional seperti jurnalisme atau aktivisme hak asasi manusia, risikonya kini juga mengintai pengguna awam di media sosial.
Bahkan, Direktur Pelaksana Lab Investigasi Digital di Human Rights Watch Sam Dubberley mengatakan, paparan konten semacam ini secara berulang dinilai memiliki potensi besar memicu gangguan emosional. "Selalu bersiap, hindari kejutan, dan bersiaplah untuk melihat materi yang mengganggu kapan saja saat beralih ke daring,” ungkap dia.
peraBaca Juga: Israel Gempur Damaskus, Suriah Tarik Pasukan dari Suwayda Demi Hindari Perang Terbuka
Menurutnya, penting bagi pengguna media sosial untuk menyadari dampak emosional yang mungkin muncul saat menonton video kekerasan.
“Jujurlah pada diri sendiri. Jika kamu melihat sesuatu yang menyedihkan yang mempengaruhi kamu, akui itu. Jangan menyembunyikannya atau berpura-pura tidak memengaruhi kamu jika memang memengaruhi,” jelas Dubberley.
Efek dari konten mengganggu tidak selalu sama bagi semua orang. Reaksi psikologis sangat bergantung pada pengalaman, kesiapan mental, dan konteks pribadi yang menyertai saat seseorang terpapar materi tersebut.
Apa yang menjadi pemicu bagi satu orang bisa sangat berbeda dari yang lain. Misalnya, sebagian orang mungkin terguncang karena melihat luka fisik, sementara yang lain lebih terpengaruh oleh ekspresi putus asa di wajah anak-anak korban.
Selain itu, hubungan personal atau emosional terhadap suatu konflik juga bisa memperkuat dampaknya. Orang dengan keterikatan budaya, agama, atau keluarga terhadap suatu wilayah konflik biasanya lebih rentan terhadap trauma sekunder akibat keterlibatan emosional yang mendalam.
Untuk mengurangi dampak negatif dari konsumsi konten kekerasan, para ahli menyarankan agar pengguna media sosial mengambil langkah-langkah preventif. Salah satunya adalah dengan menyadari bahwa materi yang mengganggu dapat muncul kapan saja dalam linimasa media sosial, terutama selama masa perang yang terdokumentasi secara luas.
Langkah sederhana seperti menonaktifkan audio, mematikan fitur putar otomatis, atau memperkecil layar video bisa membantu meminimalkan respons emosional yang mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa suara jeritan atau rintihan korban justru meninggalkan jejak psikologis yang lebih kuat daripada gambar visual semata.
Dalam kasus tertentu, memilih untuk tidak melihat video dan mengalihkan pandangan dari layar adalah langkah yang sah dan sehat. Pengguna juga disarankan untuk mengambil jeda rutin dari gawai agar tidak terus-menerus terpapar kekerasan digital di setiap jam terjaga.
Jika pengguna mulai merasakan dampak emosional seperti kesulitan tidur, mimpi buruk berulang, meningkatnya konsumsi alkohol atau zat adiktif, maka ini bisa menjadi sinyal bahwa bantuan profesional diperlukan. Langkah awal bisa dimulai dengan membicarakan perasaan tersebut kepada orang terdekat seperti keluarga, teman, atau kolega.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
