
ISI DAYA: Roman dan motor listriknya di charging station di kawasan Tibet, Tiongkok, pada pertengahan Agustus 2023.
Selain alasan lingkungan, misinya adalah masyarakat tidak ragu menggunakan kendaraan listrik. Selalu menemukan keramahan dari warga lokal.
AGFI SAGITTIAN, Jakarta
---
DALAM bayangan Roman Nedielka, jalanan penuh dengan kendaraan ramah lingkungan tanpa polusi udara dan suara adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kesan itu begitu membekas setelah dia menyambangi Shenzhen, Tiongkok; Oslo, Norwegia; dan sejumlah kota lainnya. Suatu saat, Roman ingin Indonesia, setidaknya Jakarta, juga bisa seperti itu.
Impiannya itu melahirkan sebuah ide yang terbilang nekat: keliling dunia pakai sepeda motor listrik. Dia ingin membuktikan bahwa tidak ada kekhawatiran menggunakan motor listrik. Dalam pikirannya, jika dia saja berhasil keliling dunia naik motor listrik, seharusnya perjalanan di dalam kota tidak lagi menjadi soal.
”Karena selama ini sepertinya orang masih khawatir. Nanti nge-charge-nya gimana, nanti kalau kehabisan baterai gimana, apakah sepeda motor listrik itu reliable, bisa diandalkan? Saya ingin membuktikan itu,” ujarnya.
Ide itu muncul di kepala sejak tiga tahun lalu. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan. Kemudian, pandemi Covid-19 datang dan membuat semua rencananya tertunda. Terutama karena banyak negara yang belum membuka perbatasan. ”Akhirnya, saya harus menunggu negara-negara di rute yang akan saya lewati itu dibuka,” beber pria asal Slovakia yang sudah lama tinggal di Indonesia tersebut.
Singkat cerita, Roman baru bisa merealisasikan misinya pada Juli 2023. Berangkat dari Jakarta, dia membidik navigasi ke arah Sumatera. Kemudian, dia menempuh jalur laut menuju Malaysia, Thailand, Laos, Tiongkok, Kirgistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Azerbaijan, Georgia, Turki, Bulgaria, Serbia, Hungaria, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Jerman, Prancis, Inggris Raya, Amerika Serikat, Australia, Timor Leste, dan kembali ke Indonesia. Targetnya, perjalanan bisa rampung dalam kurun waktu lima bulan.
Saat berbincang dengan Jawa Pos pertengahan November lalu, Roman berada di Eropa. Tepatnya di Slovakia, kampung halamannya. Pria 47 tahun itu menghabiskan waktu istirahat beberapa hari bersama keluarganya. Karena itu pula, dia punya cukup waktu untuk berbincang lewat panggilan video. Sebab, biasanya Roman nonstop menghabiskan waktunya untuk berjelajah. ”Saya hanya punya dua mode dalam perjalanan, jika tidak riding, ya charging,” ungkap Roman.
Selanjutnya, saatnya menjawab pertanyaan banyak orang. Bagaimana Roman bisa melakukannya dan berjalan sejauh itu? Dalam perjalanan mengelilingi dunia tersebut, Roman menggunakan sepeda motor Zero DSR/X tanpa modifikasi yang merupakan produk komersial. Daya baterai motor itu dapat diisi lewat colokan listrik standar. ”Di sini kuncinya bahwa baterai sepeda motor listrik itu bisa di-charge dengan colokan biasa. Artinya, di mana pun ada colokan, sepeda motor akan selalu bisa diisi daya. Di hampir semua tempat di semua negara, kita selalu bisa menemukan colokan,” paparnya.
Sepeda motor listrik yang dia gunakan dapat menempuh jarak sekitar 300 kilometer untuk sekali pengisian daya penuh. Roman menghabiskan rata-rata 10 jam waktu mengemudi dalam sehari. Selebihnya, dia akan mengincar tempat beristirahat yang memungkinkan terdapat colokan listrik.
”Jika ada penginapan lokal, tentu saya akan memilih penginapan. Dengan begitu, saya bisa mandi dan sarapan dengan baik. Tapi, tidak selalu begitu. Jika tidak ada penginapan, saya berhenti di mana saja. Minimarket, SPBU, atau beberapa kali saya ditampung di rumah warga lokal,” ungkap pria yang menjadi konsultan manajemen di perusahaan jasa global di Jakarta tersebut.
Dari situ, dia mendapatkan banyak pengalaman berkesan. Misalnya saja saat berkendara melintasi Laos. Kala itu Roman belum menemukan satu pun checkpoint yang bisa digunakan untuk beristirahat dan charging hingga malam tiba. Padahal, tidak banyak baterai yang tersisa di sepeda motornya.
Roman kemudian mendapati satu rumah warga di tengah-tengah area yang sepi. Memberanikan diri, dia berhenti dan menyapa sang penghuni. Tak disangka, sambutannya begitu hangat. Pemilik rumah berbaik hati menawari Roman untuk menginap. Sekaligus memberikan izin untuk menge-charge sepeda motornya.
”Orang-orang luar biasa baik. Di Indonesia, di Asia, di mana pun saya bertemu dengan warga lokal, mereka selalu menawarkan bantuan terbaik. Ketika meminta tolong sesuatu, khususnya untuk meminjam colokan, saya tidak pernah mendapatkan kata tidak,” beber Roman.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022