
Nathaina menunjukkan setting display di National Taiwan Science Education Center, Taipei.
Jadi Wakil Indonesia Pertama Juarai Taiwan International Science Fair
Semangat meneliti Nathania terdorong keberhasilan eksperimen pertama dengan jahe semasa SD yang dia pelajari dari komik sains. Di luar sains, dia juga pernah menjajal musik, dance, fashion design, hingga olahraga.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
DI bangku sekolah dasarlah Nathania memulai penelitian pertamanya. Hanya proyek kecil hasil permasalahan yang dia temukan dan murni keingintahuan.
Nathania kecil yang saat itu menderita sinusitis menemukan fakta, jahe mampu meredakan gejala flu. Bukan dari jurnal, melainkan komik sains yang gemar dia baca sejak kecil.
”Jadilah saya bikin semacam masker yang ditempel di hidung. Itu buat sendiri kayak coba-coba. Ternyata betulan, saya merasa mendingan setelah pakai masker itu,” kenang remaja 18 tahun tersebut.
Eksperimen kecil itu kian menyemangatinya untuk berselancar ke dunia sains. Di bangku SMA, Nathania menemukan problem yang lebih besar. Dia meneliti bakteri MRSA yang menjadi urgensi di rumah sakit, khususnya ruang gawat darurat.
Sang ayah yang berprofesi sebagai dokter membuatnya jadi tahu bahwa bakteri tersebut sangat berbahaya. Sebab, bakteri itu resistan terhadap antibiotik dan harga untuk obatnya pun sangat mahal.
”Penanganannya juga rumit. Karena itu, saya pengin menciptakan alternatif yang lebih terjangkau, ramah lingkungan, dan efektif,” lanjutnya.
Nathania lantas membaca banyak jurnal sains seputar tanaman yang mampu melawan bakteri MRSA. Dia pun membuat inovasi berupa baju antibakteri dari nanopartikel perak dan ekstrak kelor.
Penelitian bertajuk Silver Moringa Cloth: Moringa Extract (Moringa Oleifera) Based Silver Nanoparticle Sisal Fabric as Antibacterial Againts Methicillin-Resistant Staphylococcuss Aureus itu membawanya ke panggung internasional. Dia berhasil menjuarai ajang ilmiah bergengsi, Taiwan International Science Fair (TISF) 2023 pada Februari lalu.
”Dapat first place untuk kategori Medicine and Health Science, senang banget pastinya. Apalagi, yang di Taiwan ini belum pernah ada yang menang dari Indonesia,” ungkap alumnus SMAN 5 Surabaya itu.
Padahal, persiapannya kurang dari satu bulan. Namun, dia berhasil mengalahkan 21 negara lain. Di kategorinya bahkan tidak ada yang menempati juara II, III, dan IV lantaran tidak ada yang memenuhi skor kemenangan yang telah ditetapkan.
”Persyaratannya kayak penulisan jurnalnya kan harus standar internasional, kemudian laboratorium harus BSL 2. Bolak-balik Surabaya-Malang juga karena mikroskop elektronnya hanya ada di Universitas Negeri Malang.”

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
