
Komunitas Gubuk Jajak Wacana membuka lapak perpustakaan jalanan di alun-alun
Cara Jordi Aldhy menumbukan budaya literasi di rumah cukup menarik dan terbilang berani. Meski berusia muda dia sudah mampu menyediakan lapak baca buku gratis untuk masyarakat umum. Menariknya buku itu merupakan koleksi pribadi dan urunan dengan kawan-kawannya.
LODITYA FERNANDEZ, Ngawi
SEJUMLAH remaja tampak memadati sebuah "lapak" di salah satu sudut Alun-Alun Merdeka Ngawi pagi itu. Sebagian terlihat sedang serius membaca, sisanya masih sibuk memilih buku bacaan. "Kami biasa menyebut ngelapak karena mirip jualan. Tapi, ini gratis untuk dibaca," kata Jordi Aldhy Vivaldi, penggagas Komunitas Gubuk Jajak Wacana.
Terbentuknya Gubuk Jajak Wacana berawal saat Jordi liburan ke Jogjakarta. Di sebuah kesempatan saat di Kota Gudeg, dilihatnya beberapa anak jalanan asyik membaca buku di pinggir jalan. Jordi yang doyan melahap buku bacaan pun kaget. "Biasanya mereka kan sekadar nggrombol dengan kegiatan yang tidak jelas," tuturnya seperti dilansir Radar Madiun (Jawa Pos Group).
Remaja kelahiran 23 Februari 2001 itu pun lantas memiliki ide menyediakan buku gratis bagi anak jalanan maupun masyarakat umum di Ngawi. "Saat saya sampaikan kepada dua teman yang juga hobi baca, mereka sepakat," kata Jordi.
Sejak itu ketiganya rajin kopi darat hingga akhirnya terbentuk komunitas Gubuk Jajak Wacana. Meski terkesan jadul, nama tersebut memiliki filosofi kuat. Mencomot kata gubuk lantaran bisa digunakan semua kalangan. Jajak mengandung makna tegak dan bertahan. Sedangkan wacana artinya bacaan.
Sesuai rencana awal, setiap Sabtu dan Minggu komunitas itu menggelar kegiatan ngelapak buku di seputaran alun-alun. Maklum, lokasi tersebut menjadi jujukan warga saat akhir pekan, terutama ketika car free day (CFD). Buku yang disediakan pun beragam, mulai otobiografi tokoh, novel, hingga sejumlah literasi lain. "Ada puluhan buku," tuturnya.
Buku yang diusung saat ngelapak itu merupakan koleksi pribadi dan sebagian dibeli dengan cara urunan. Sisanya dari keuntungan hasil penjualan kaus bertuliskan kritik sosial dengan kalimat menggelitik.
Meski jelas-jelas memiliki kegiatan positif, ada saja komentar miring menerpa komunitas Gubuk Jajak Wacana saat ngelapak. Ada pula pengunjung yang mengira mereka sedang berjualan. "Tanya harganya berapa, padahal untuk baca gratis," ujarnya sembari menyebut komunitasnya juga kerap menggelar kegiatan sosial dengan dana dari hasil penjualan merchandise.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
