Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Juli 2023 | 17.54 WIB

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi Sempat Diperiksa Semalaman dan Jalani Serangkaian Tes di Istanbul

JADI PELAJARAN: Ismail Fahmi, Agnes Tri Harjaningrum, dan Aries Asriadi di Bandara Paris (10/7).

Pengalaman Pontang-panting di Eropa setelah Kecurian Paspor

Paspor Ismail Fahmi dan istri dicuri di sebuah kota kecil di Prancis saat 22 jam lagi mereka harus terbang ke Indonesia. Ketika transit di Istanbul, mereka dibalikkan lagi ke Paris karena masa berlaku Surat Perjalanan Laksana Paspor tak memenuhi syarat di Turki.

FOLLY AKBAR, Jakarta

---

SETELAH menghadiri sebuah konferensi ekonomi di Prancis, di hari terakhir seusai acara, Ismail Fahmi dan istri, Agnes Tri Harjaningrum, berkunjung ke sebuah Taman Lavender. Pendiri Drone Emprit itu berniat menikmati suasana sembari menanti penerbangannya ke Indonesia yang dijadwalkan keesokan harinya (10/7).

Tapi, niat untuk relaksasi di salah satu sudut Kota Aix En Provence itu justru berujung peristiwa tak mengenakkan. Dia dan istri kehilangan paspor. ”Kita kalau nggak punya paspor di luar negeri kayak orang nggak diakui,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Jumat (14/7) pekan lalu.

Pendiri PT Media Kernels Indonesia tersebut menceritakan, peristiwa itu sungguh di luar dugaan. Tiba di Taman Lavender sekitar pukul tiga sore, Ismail meninggalkan mobil beserta semua barang-barangnya di tepi jalan, tak jauh dari lokasinya berwisata. Karena merasa di kota kecil dan kondisi sepi, Ismail percaya diri untuk tidak mengunci pintu mobilnya.

”Karena rasa aman barang-barang di dalam, pintu tidak saya kunci. Karena saya juga ada di sekitar situ,’’ imbuh pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, tersebut.

Sialnya, prediksinya perihal keamanan itu salah besar. Tak lama setelah beranjak, mobilnya justru dibobol maling. ”Ada orang pakai mobil tanpa pelat nomor nggak pakai baju. Buka pintu, ada tas diambil saja,’’ terangnya.

Sontak saja, dia terkejut. Mendapati paspor hilang, Ismail panik bukan kepalang. Terlebih, jadwal penerbangannya keesokan harinya pukul 1 siang atau hanya berselang 22 jam lagi. Itu belum termasuk kebutuhan waktu perjalanan menuju Paris yang memerlukan 8 jam.

Di tengah kepanikan, Ismail berupaya tenang. Perlahan, dia ingat-ingat siapa orang yang dapat membantunya. Akhirnya ketemu. Dia ingat punya teman yang pernah kuliah di Prancis, lalu dihubungi.

Beruntung, dia punya teman yang tepat. Teman yang kenal dekat dengan pejabat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris. ”Dikasih kontak ke Pak Aries,’’ tuturnya merujuk kepada Aries Asriadi, minister counselor di KBRI Paris.

Tak lama, Ismail langsung menghubunginya. Dari arahan Aries, dia diminta mengurus sejumlah dokumen. Selain membuat Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) sebagai pengganti paspor di KBRI, dia harus mengurus surat kehilangan dari kepolisian dan membuat pasfoto. Dua persyaratan terakhir dibutuhkan untuk verifikasi di bandara dan imigrasi.

Nahasnya lagi, itu hari libur. Di kota kecil seperti Aix En Provence, kepolisian tutup di akhir pekan. Dia harus bergeser ke kota terdekat, Lyon, yang berjarak 3 jam perjalanan untuk mendapatkan surat kehilangan kepolisian.

Kepada polisi, laporannya sempat terhambat karena mengaku hilang. Dalam perspektif polisi, hilang adalah kesalahan pribadi. ”Saya bilang pencurian, baru boleh saya bisa masuk isi form laporan,’’ tuturnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore