Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 03.26 WIB

Gen Z Raup Jutaan dari Clipping, Sulianto Indria Putra Hadirkan Konten.com sebagai Marketplace

Berbeda dengan influencer, clipper bekerja di balik layar tanpa harus membangun personal brand atau memiliki banyak pengikut untuk menghasilkan uang dari konten. (Istimewa). - Image

Berbeda dengan influencer, clipper bekerja di balik layar tanpa harus membangun personal brand atau memiliki banyak pengikut untuk menghasilkan uang dari konten. (Istimewa).

JawaPos.com — Meraup puluhan juta rupiah dari unggahan potongan video mungkin terdengar seperti clickbait. Namun, bagi sebagian anak muda, aktivitas ini mulai berkembang menjadi profesi baru.

Di tengah ledakan konten video pendek, muncul profesi clipper yang menarik perhatian. Berbeda dengan influencer, clipper bekerja di balik layar tanpa harus membangun personal brand atau memiliki banyak pengikut untuk menghasilkan uang dari konten.

Fenomena ini tumbuh seiring konsumsi internet yang makin tinggi. Survei APJII 2026 mencatat 81,72% orang Indonesia telah terhubung ke internet. Besarnya jumlah pengguna ini ikut memperluas ruang bagi konten untuk diproduksi, didistribusikan, dan dimonetisasi.

Mengenal Clipper dan Cara Kerjanya
Secara sederhana, clipper mengambil materi seperti podcast, livestream, interview, atau video panjang, lalu mengubah bagian paling menarik menjadi konten pendek untuk TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts.

Namun, tugasnya tak hanya memotong video. Clipper perlu memilah momen yang tepat, membuat hook, mengerti konteks, memahami psikologi audiens, mengatur pacing, menambahkan elemen visual, serta menyesuaikan konten dengan karakter tiap platform.

Munculnya Tren Clipper Bukan Tanpa Alasan
Produksi konten makin membludak, tapi perhatian audiens makin sulit direbut. Kreator dan brand sudah punya banyak materi panjang dari podcast, livestream, hingga interview. Satu podcast berdurasi 1–2 jam, misalnya, bisa menyimpan puluhan momen yang siap diolah menjadi konten pendek dengan angle berbeda.

Di sisi lain, riset Dr. Gloria Mark dari University of California mencatat rata-rata rentang atensi manusia pada layar digital hanya 47 detik. Konten harus bergerak lebih cepat. Di sinilah clipper mengambil peran, memecah satu materi panjang menjadi banyak konten yang lebih mudah dikonsumsi.

Clipper Tak Dibayar dari Jam Kerja
Berbeda dengan editor yang umumnya dibayar berdasarkan pekerjaan, clipper menghasilkan uang dari performa konten. Sejumlah marketplace clipping menawarkan tarif sekitar Rp2.000–Rp7.000 per 1.000 views, tergantung campaign dan ketentuan platform.

Artinya, 1 juta views berpotensi menghasilkan Rp2 juta–Rp7 juta. Semakin banyak views yang dikumpulkan dari berbagai konten, semakin besar pula potensi penghasilannya.

Saat Side Hustle Gen Z Jadi Profesi
Clipper punya entry barrier yang relatif rendah. Tak perlu jadi influencer atau punya jutaan pengikut. Mahasiswa, editor pemula, hingga pengguna media sosial bisa mulai mengolah konten dengan bermodalkan gawai, koneksi internet, dan kemampuan editing dasar, tanpa terpaku CV maupun batas usia.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore