
Ilustrasi PLTN Fukushima (Istimewa)
JawaPos.com - Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia secara stabil dengan emisi gas rumah kaca yang rendah. Namun, pengembangan energi nuklir tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan listrik. Melainkan juga kesiapan teknologi, sumber daya manusia, serta kemandirian Indonesia dalam menentukan mitra dan mengelola pembangkit.
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN Topan Setiadipura mengatakan Indonesia membutuhkan pasokan listrik rendah karbon untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Di tengah kebutuhan listrik yang terus berkembang, berbagai sumber energi memiliki karakteristik berbeda dalam menjaga kestabilan sistem kelistrikan.
Hal ini disampaikannya dalam diskusi Economic Frontline bertajuk Is Nuclear a Clean & Clear Energy for Prosperous Indonesia? Menimbang Manfaat, Biaya, Risiko, dan Kesiapan Pembangunan PLTN di Indonesia di Tana Pool & Lounge, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).
Energi surya, angin, air, dan panas bumi dapat menjadi bagian dari bauran energi nasional. Namun, masing-masing sumber memiliki karakteristik tersendiri sehingga pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan, termasuk dukungan jaringan, penyimpanan energi, dan interkoneksi.
“PLTN memiliki karakteristik berbeda karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang rendah selama siklus hidup pembangkit dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil,” ungkap Topan.
Meski demikian Topan menilai pengembangan PLTN perlu disertai investasi dalam pendidikan, penelitian, peningkatan kompetensi tenaga ahli, serta pembangunan ekosistem industri teknologi. Langkah tersebut dibutuhkan agar Indonesia memiliki kesiapan yang memadai dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi nuklir.
Dari sisi ketahanan energi, M. Kholid Syeirazi dari Dewan Energi Nasional menyebut PLTN berpotensi membantu menjaga kepastian pasokan listrik. Menurutnya, kebutuhan bahan bakar nuklir relatif kecil dibandingkan energi yang dapat dihasilkan.
Namun, Indonesia tetap perlu memperhitungkan rantai pasok bahan bakar, pembiayaan, pengelolaan limbah, hingga proses penghentian operasi pembangkit atau dekomisioning.
Kholid mengingatkan bahwa ketahanan energi juga berkaitan dengan kemampuan negara menghadapi gangguan pasokan dan perubahan harga energi global. Karena itu, pengembangan nuklir perlu berjalan seiring dengan diversifikasi sumber energi, bukan menjadikan satu sumber sebagai tumpuan utama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022