
ILUSTRASI: PLTN Mihama milik Kansai Electric Power Co. di Mihama, Prefektur Fukui, Jepang, dalam foto yang diambil pada November 2025. (Kyodo)
JawaPos.com – Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mulai menjadi salah satu opsi strategis dalam pembahasan masa depan energi Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, tuntutan pengurangan emisi karbon, serta upaya memperkuat kemandirian energi nasional, teknologi nuklir menawarkan peluang untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih andal dan rendah emisi.
Namun, rencana pengembangan PLTN tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan teknologi pembangkit. Keputusan tersebut juga menyangkut kesiapan infrastruktur, jaminan keselamatan, kepastian investasi, penerimaan masyarakat, serta kemampuan negara mengelola teknologi strategis untuk kepentingan jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, perspektif riset dan kebijakan energi menjadi penting untuk menilai bagaimana PLTN dapat berkontribusi terhadap target zero emission tanpa mengabaikan aspek keamanan pasokan listrik dan kedaulatan energi Indonesia.
Dr. Topan Setiadipura, peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan jika energi menuntut perubahan mendasar dalam sistem penyediaan listrik. Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan energi rendah karbon, mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil, serta memastikan kebutuhan listrik masyarakat dan industri tetap terpenuhi.
Diskusi Economic Frontline di Jakarta. (Istimewa)
Energi surya, angin, air, panas bumi, dan nuklir memiliki karakteristik yang berbeda dalam sistem kelistrikan. Sebagian sumber energi terbarukan bergantung pada kondisi alam dan waktu, sehingga integrasinya memerlukan dukungan jaringan listrik, penyimpanan energi, interkoneksi, dan pengelolaan sistem yang memadai.
"PLTN memiliki karakteristik berbeda karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang rendah selama siklus hidup pembangkit dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil" ungka topan dalam diskusi Economic Frontline di Jakarta.
Karakteristik tersebut menjadikan nuklir salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk menyediakan listrik rendah karbon secara stabil, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat akibat pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, dan perkembangan ekonomi digital.
Meski demikian, nuklir bukan satu-satunya jawaban bagi transisi energi. Kontribusinya perlu dinilai berdasarkan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia, kesiapan teknologi, biaya pembangunan, waktu penyelesaian proyek, serta kemampuan mengelola risiko keselamatan dan limbah radioaktif.
Pengembangan PLTN juga perlu disertai investasi pada pendidikan, penelitian, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli Indonesia. Dengan demikian, pemanfaatan nuklir tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pembangkit, tetapi turut mendorong terbentuknya ekosistem ilmu pengetahuan dan industri berteknologi tinggi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022