
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai. (Istimewa)
JawaPos.com - Peningkatan daya saing investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional butuh sinergi pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah, pelaku industri, dan stakeholder lainnya.
Sinergi itu dinilai sebagai salah satu kunci untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengamat migas dari Universitas Trisakti Pri Agung Rakhmanto mengatakan, Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh potensi bawah permukaan (underground risk), melainkan juga faktor above ground risk. Di antaranya kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.
“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Pri Agung kepada wartawan pada Jumat (18/9).
Potensi itu perlu didukung ekosistem investasi yang semakin kompetitif, sehingga mampu menarik modal, terutama untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan. Sebetulnya, sejumlah perusahaan migas internasional masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi potensial, termasuk Eni, Petronas, dan Mubadala.
Kecepatan eksekusi proyek juga menjadi sinyal penting bagi investor. Semakin panjang waktu sejak penemuan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream), semakin besar pengaruhnya terhadap persepsi investor dan keekonomian proyek. Karena itu, sinergi antar pemangku kepentingan perlu menjadi salah satu pendorong percepatan eksekusi.
“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Founder ReforMiner Institute itu.
Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan yang positif. Namun, persaingan mendapatkan modal global tetap ketat karena proyek di Indonesia harus bersaing dengan portofolio investasi di berbagai negara.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan investasi juga tidak cukup diukur dari kenaikan nilai investasi, tetapi perlu tercermin pada indikator yang lebih konkret, terutama peningkatan cadangan dan produksi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022