Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 16.42 WIB

Waspada Serangan Siber, Indonesia Diingatkan Bikin Perencanaan Matang saat Jalankan Transisi Energi

PLN dan Pertamina resmi bekerja sama mengembangkan energi panas bumi 530 MW untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia. (Istimewa) - Image

PLN dan Pertamina resmi bekerja sama mengembangkan energi panas bumi 530 MW untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com - Transisi energi seperti yang sedang dilakukan Indonesia ternyata memiliki risiko terkena kejahatan siber. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan maksimal agar tidak terlibat dalam perang siber.
 
John Defterios, Board Member SEforAll sekaligus Senior Fellow Energy & Materials World Economic Forum mengatakan, era baru energi bersih tak bisa dilepaskan dari risiko serangan digital. Menurutnya, serangan ini nyata terjadi.
 
“Energi adalah tulang punggung pembangunan. Tapi kini juga menjadi sasaran empuk para penjahat siber. Satu dari sepuluh serangan di dunia mengincar sektor energi,” kata John, Sabtu (4/10).
 
John menilai, perlu peningkatan keamanan siber. Sehingga, investasi energi baru terbarukan seperti panel surya, hingga turbin angin bisa terhindar dari ancaman. 
 
John mencontohkan Senegal dan Arab Saudi yang pernah menjadi target serangan begitu memulai proyek energi baru terbarukan. “Indonesia juga akan menghadapi hal yang sama. Itu sebabnya keamanan harus dimasukkan sejak perencanaan,” tambahnya.
 
 
Selain itu, transisi energi harus disertai dengan penjagaan siber yang ketat agar tidak diganggu oleh pihak asing. 
 
“Transisi energi Indonesia bukan sekadar tentang mengganti batu bara ke energi hijau, tapi juga tentang bagaimana menjaga agar listrik yang dinikmati rakyat tidak mudah diputus pihak asing lewat dunia maya,” tandasnya.
 
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 370 juta upaya serangan siber sepanjang 2023, sebagian besar mengarah ke infrastruktur strategis. Bila serangan siber terjadi, dikhawatirkan dampaknya akan sangat besar.
 
Pemerintah Indonesia saat ini seperti diketahui telah berkomitmen mengurangi emisi karbon dengan mendorong bauran energi hijau. Namun, menurut Defterios, langkah itu harus diikuti dengan investasi keamanan digital. 
 
Ia menyoroti ketimpangan pendanaan global, di mana negara berkembang rata-rata hanya mengalokasikan USD 1 per kapita untuk keamanan siber, jauh tertinggal dibanding negara maju yang menginvestasikan USD 30 per kapita.
 
“Jika kesenjangan ini tidak ditutup, transisi energi akan menjadi sasaran empuk pihak luar. Investor global juga tidak akan menaruh modal besar jika merasa infrastruktur digital Indonesia rapuh,” tandasnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore