JawaPos.com - Femonena downgrade lifestyle atau penurunan standar gaya hidup ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet membagikan pengalaman mengurangi pengeluaran, mulai dari mengganti produk perawatan kulit hingga beralih dari kopi kafe ke kopi saset.
Tren tersebut mencerminkan perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat dalam menghadapi tekanan gaya hidup. Penyesuaian pengeluaran juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dikutip dari Binokular pada Senin (26/10), percakapan mengenai downgrade lifestyle mulai ramai di platform Threads sejak awal September 2026. Warganet membagikan pengalaman menekan pengeluaran agar kondisi keuangan tetap terjaga.
Perubahan tersebut terlihat dari pilihan produk yang lebih terjangkau, pengurangan pembelian barang non pokok, hingga kekhawatiran terhadap biaya pendidikan. Sebagian pengguna media sosial juga menganggap penyesuaian gaya hidup sebagai langkah realistis daripada mempertahankan pola konsumsi di luar kemampuan finansial.
Fenomena ini turut menjadi sorotan karena kondisi kelas menengah menghadapi sejumlah tantangan ekonomi. Berdasarkan data Mandiri Institute yang dikutip Binokular, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 orang pada 2025.
Jumlah tersebut setara dengan 16,6% dari total populasi Indonesia. Sebagian masyarakat yang keluar dari kategori kelas menengah masuk ke kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class.
Tekanan ekonomi juga terlihat dari data ketenagakerjaan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja mengajukan klaim melalui program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) selama Januari-Agustus 2026.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,28% pada September 2026, meningkat dibandingkan 2,65% pada September 2025. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dapat memengaruhi keputusan rumah tangga dalam mengalokasikan pendapatan.
Meski demikian, perubahan pola konsumsi tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mengalami penurunan daya beli. Data pengeluaran dan kondisi ekonomi perlu dibaca secara menyeluruh untuk memahami faktor yang mendorong masyarakat mengurangi belanja.
Melalui tren downgrade lifestyle, masyarakat memperlihatkan cara menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial. Namun, fenomena ini juga menjadi pengingat pentingnya memperhatikan daya beli dan ketahanan ekonomi rumah tangga, terutama kelompok kelas menengah.