Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Oktober 2026 | 19.02 WIB

2 Tahun Prabowo-Gibran, 80 % UMKM Belum Melihat Peluang Usaha dari MBG dan Kopdes Merah Putih

Aplikasi rating MBG (Dok BGN). - Image

Aplikasi rating MBG (Dok BGN).

JawaPos.com – Besarnya belanja pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih belum otomatis memberikan dampak ekonomi yang merata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok kedua program tersebut dinilai masih terbatas.

Temuan itu tertuang dalam kajian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengenai sinergi MBG dan Kopdes Merah Putih dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Riset tersebut dilakukan melalui survei tatap muka terhadap 1.806 responden pelaku UMKM formal dan informal di seluruh Indonesia pada Agustus 2026.

Hasil penelitian menunjukkan, meskipun 97 persen responden mengenal program MBG dan program tersebut telah hadir di 92 persen desa/kelurahan responden, hanya 5 persen UMKM formal dan 1 persen UMKM informal yang telah bermitra atau menjajaki kemitraan.

Partisipasi UMKM dalam Kopdes Merah Putih bahkan tercatat lebih rendah. Kondisi itu menunjukkan masih adanya kesenjangan antara jangkauan program pemerintah dan keterlibatan pelaku usaha lokal.

"Sekitar 80 persen UMKM juga belum melihat peluang usaha baru yang tercipta dari kedua program tersebut. Mengindikasikan efek pengganda ekonomi atau multiplier effect dari program ini," kata Ekonom INDEF sekaligus Kepala Peneliti Dzulfian Syafrian dalam keterangannya dikutip Selasa (20/10)

Di sisi lain, kajian INDEF menemukan 22 persen responden melaporkan penurunan kegiatan usaha akibat MBG. Sementara itu, hanya 5 persen yang mengalami peningkatan. Dampak negatif tersebut terutama dirasakan UMKM informal.

"Temuan ini mengindikasikan terjadinya substitusi permintaan dan terkonsentrasinya manfaat ekonomi pada pelaku tertentu, serta minimnya efek tetesan (trickle-down effect) dari kedua program ini," jelasnya.

Dzulfian menyoroti pentingnya merancang kedua program tersebut sebagai satu ekosistem agar manfaat ekonominya dapat menjangkau lebih banyak UMKM lokal.

INDEF menilai efektivitas kedua program tidak cukup diukur dari besarnya anggaran dan luasnya cakupan penerima manfaat. Pemerintah juga perlu memastikan pelaku usaha lokal memperoleh akses nyata untuk memasok kebutuhan program.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore