
pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi bergerak melemah mengikuti bursa kawasan Asia dan global, dipicu oleh naiknya harga minyak mentah global ditambah ekspektasi The Fed akan bersikap hawkish pada pertemuan September 2026.
IHSG dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.552,79. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,28 poin atau 0,50 persen ke posisi 652,70.
"Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menguji 6.673-6.723, dengan resistance berikutnya 6.859. Sebaliknya, jika breakdown di bawah 6.520, koreksi berpotensi menuju 6.420, dengan support berikutnya 6.377," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari mancanegara, data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dengan PPI headline Agustus 2026 meningkat 0,4 persen month to month (mtm) dan 5,4 persen year on year (yoy), sementara PPI inti naik 0,2 persen (mtm) dan 4,6 persen (yoy).
Data tersebut merubah ekspektasi, dengan pasar memperkirakan The Fed memiliki alasan lebih kuat untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2026, terutama dengan kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih relatif resilien.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC 16 September 2026 meningkat menjadi sekitar 73 persen, dari sekitar 64 persen sebelum rilis PPI.
Sementara itu, Liza mengatakan risiko geopolitik tetap menjadi perhatian setelah eskalasi konflik antara AS dengan Iran mendorong kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan energi global.
Harga minyak melonjak tajam setelah meningkatnya ketegangan tersebut, dengan minyak Brent melonjak 8,7 persen ke level 109,97 dolar AS barel, sementara WTI naik 8,54 persen menuju 104 dolar AS per barel.
"Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dalam jangka lebih panjang sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara," ujar Liza.
Dari dalam negeri, Liza mengatakan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN, terutama melalui kenaikan subsidi dan kompensasi energi, mengingat asumsi harga minyak dalam APBN berada di sekitar 90 dolar AS per barel.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022