
Sejumlah warga menunggu surutnya rob di depan rumahnya di Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, Minggu (14/5/2023).(Aji Setyawan/ANTARA)
JawaPos.com - Perubahan iklim yang disertai kenaikan permukaan air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) telah mengancam penghidupan masyarakat pesisir di pesisir utara Jawa termasuk DKI Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan Demak.
Dampak dari perubahan iklim tersebut telah memperburuk kemiskinan dan kerentanan masyarakat pesisir dengan merusak dan menenggelamkan tanah, harta benda, perumahan mereka dan memaksa sebagian masyarakat pesisir bermigrasi ke tepian sungai atau desa lain.
Lebih lanjut, dampaknya turut menggeser sebagian besar mata pencaharian utama masyarakat yang semula berprofesi sebagai petani menjadi nelayan atau buruh baik di sektor formal maupun informal. Banyak perempuan dan anak terpaksa bekerja di sektor informal untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Riset kolaborasi KONEKSI yang dilakukan oleh BRIN, UNDIP, serta Griffith University memotret dampak perubahan iklim terhadap perempuan dan anak-anak di DKI Jakarta, Pekalongan (kota dan kabupaten), Semarang, serta Demak dengan 400 partisipan. Terdiri dari DKI Jakarta (80 perempuan, 20 anak), Pekalongan (80 perempuan, 20 anak), Semarang (80 perempuan, 20 anak), dan Demak (75 perempuan, 25 anak).
Partisipan perempuan berusia rentang 19-75 tahun (87,6 persen Jawa, 6,8 persen Sunda), sedangkan anak-anak usia 10-17 tahun (44 laki-laki dan 41 perempuan). Rata-rata pendidikan partisipan perempuan adalah sekolah dasar, dan mayoritas sudah berumah tangga dengan 4-5 orang anggota dalam satu keluarga.
Kenaikan permukaan air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) telah mengakibatkan hilangnya mata pencaharian utama. (bahan paparan KONEKSI)
Perempuan
Perempuan dan anak-anak menghadapi "beban ganda" terkait perubahan iklim. Mereka tidak hanya menghadapi dampak perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem, tetapi juga meningkatnya perkawinan anak, kerja paksa anak, serta kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga.
Peneliti BRIN, Laely Nurhidayah memaparkan hasil riset, Jumat (31/10). Pertama, perubahan iklim berdampak terhadap keuangan rumah tangga. "Lebih dari 80 persen perempuan yang berpartisipasi dalam survei melaporkan bahwa pendapatan rumah tangga mereka telah terdampak oleh perubahan iklim," kata Laely.
Semua perempuan menggunakan penghasilan mereka untuk menafkahi keluarga. Seringkali, pekerjaan yang dilakukan perempuan berada di bawah upah minimum, di bawah tekanan, dan tidak memiliki standar kesehatan yang memadai.
Perempuan dalam kelompok pendapatan rendah Rp 1 juta hingga Rp 2 juta cenderung mengalami kondisi kerja yang paling buruk, dan lebih sering terlibat dalam pekerjaan berbahaya dibandingkan dengan kelompok pendapatan lainnya.
Kenaikan permukaan air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan permukaan tanah (land subsidence) telah mengakibatkan hilangnya mata pencaharian utama di sektor pertanian, rusaknya tambak, dan berkurangnya hasil tangkapan ikan. Sehingga mengakibatkan banyak perempuan dan anak terpaksa bekerja di sektor informal tanpa kepastian hubungan kerja, upah dan hak-hak lain sebagai pekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar dan lokasi pemukiman yang terkena dampak perubahan iklim, mengambil pekerjaan tambahan/sekunder karena pekerjaan utamanya terkena dampak perubahan iklim, akibat perubahan iklim perempuan harus mencari pekerjaan baru untuk menghidupi keluarga, anak- anaknya," terang Laely.
Masyarakat pesisir didominasi oleh masyarakat miskin yang tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, yang dimiliki Kementerian Sosial. Sementara itu, dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut dan penurunan permukaan tanah memperburuk upaya peningkatan kualitas hidup mereka.
Sebanyak 75 persen rumah keluarga perempuan saat ini rusak akibat bencana, sehingga meningkatkan biaya perbaikan. Peningkatan biaya ini semakin memperparah kemiskinan keluarga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022