
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
JawaPos.com-Rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merekrut hacker terbaik Indonesia untuk memperbaiki sistem inti administrasi perpajakan Coretax menuai perhatian tajam dari kalangan pakar keamanan siber.
Langkah tersebut dinilai berani dan pragmatis, tetapi juga mengandung risiko tinggi jika tidak dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan ketat. Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha, menilai gagasan itu bisa menjadi solusi cepat atas potensi kebocoran atau kerentanan sistem yang menyangkut data pajak jutaan warga dan perusahaan.
Namun, istilah merekrut hacker yang diucapkan Menteri Purbaya memunculkan sejumlah pertanyaan serius, mulai dari batas peran, mekanisme kontrol, hingga akuntabilitas hukum.
“Langkah itu sensitif, berisiko tinggi, tapi bisa pragmatis bila eksekusinya benar. Pemerintah perlu memastikan siapa yang dimaksud hacker terbaik, apa mandatnya, dan bagaimana tata kelola keamanannya,” ujar Pratama dihubungi JawaPos.com.
Menurut Pratama, pelibatan peretas etis (ethical hackers) dalam proyek pemerintah sebenarnya lazim dilakukan di berbagai negara. Khususnya untuk melakukan penetration testing dan code review terhadap sistem kritikal. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada sejauh mana batas tugas mereka diatur.
“Kalau sampai mereka diberi akses langsung ke kode produksi tanpa change management dan quality assurance yang ketat, risikonya justru bisa menimbulkan kerusakan baru,” tambah dia.
Pratama juga mengingatkan bahwa istilah hacker sering disalahpahami publik sebagai sosok kriminal dunia maya. Karena itu, pemerintah perlu memperjelas bahwa yang dimaksud adalah peretas etis yang bekerja di bawah kontrak dan pengawasan resmi, bukan pelaku kejahatan siber yang dipanggil pulang untuk membantu negara.
Selain aspek teknis, dia menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Kementerian Kominfo untuk memastikan langkah perbaikan Coretax tidak melanggar hukum atau membuka celah baru dalam tata kelola data fiskal.
“Kita bicara sistem yang menyimpan data sensitif milik jutaan wajib pajak. Setiap akses harus diaudit, setiap tindakan harus terdokumentasi, dan setiap hasil harus bisa dipertanggungjawabkan,” beber Pratama.
Langkah Kemenkeu ini muncul di tengah sorotan terhadap kualitas implementasi Coretax dan dugaan masalah keamanan data yang belum sepenuhnya tuntas. Di sisi lain, publik menunggu transparansi pemerintah dalam menjelaskan siapa yang akan direkrut, bagaimana mekanisme kerja mereka, dan bentuk pengawasan yang diterapkan.
Jika berhasil dikelola dengan benar, perekrutan hacker terbaik bisa menjadi simbol reformasi keamanan digital nasional. Namun bila gagal, langkah ini bisa justru menjadi preseden buruk yang menggerus kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan digital negara.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
