Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 20.34 WIB

Safari ke Luar Negeri, Jokowi Yakinkan Investor untuk Investasi di Indonesia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempersilakan para peserta Pemilu dan Pilpres 2024 untuk saling adu ide dan gagasan pada masa kampanye yang dimulai sejak 28 November 2023 sampai 10 Februari 2024.


JawaPos.com
- Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan safari ke luar negeri dari Australia dan Papua Nugini. Dalam rangka memperkuat kerja sama dagang dan investasi di sektor prioritas. Seperti, hilirisasi industri, pariwisata, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi hijau.

Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar menilai, Presiden Jokowi berjuang cukup panjang untuk meyakinkan dunia internasional. Sekaligus menegaskan bahwa selama masa pemerintahannya Indonesia berkembang sangat signifikan. Khususnya dari aspek ekonomi.

Di sisi lain, Jokowi juga ingin menunjukkan masih terdapat ruang ke depannya untuk investasi asing.

“Saya kira Jokowi ingin memanfaatkan momentum akhir di masa pemerintahannya. Jadi, saya kira lebih kepada ingin meninggalkan legacy (warisan). Terutama untuk pendanaan proyek-proyek yang ditinggalkan oleh Jokowi seperti IKN (Ibu Kota Negara) dan beberapa proyek infrastruktur lainnya,” ucap Media kepada Jawa Pos saat ditemui di bilangan Tanah Abang, Kamis (6/7).

Termasuk juga dinamika politik, lanjut dia, Jokowi ingin memastikan bahwa ada keberlanjutan dari proyek-proyek yang sudah dilakukan. Khususnya, proyek jangka panjang. Sebab, saat ini sebagian investor cenderung wait and see. Sejalan dengan tahun politik yang terjadi di tanah air.

“Untuk proyek IKN Jokowi ingin ngejar itu sebelum masa pemerintahannya selesai,” jelas lulusan doktoral University Of Manchester itu.

Meski demikian, Media mengakui tren investasi ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja, pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan adalah meyakinkan investor dengan regulasi, reformasi birokrasi, dan kemudahan berusaha. Termasuk iklim keteragakankerjaan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti safari Jokowi ke Australia m dalam rangka investasi. Menurut dia, kunjungan tersebut merupakan momentum krusial. Mengingat, Australia sangat tertarik dengan sektor pariwisata Indonesia.

“Jadi dengan adanya kunjungan yang intens terutama Australia itu untuk menindaklanjuti juga rencana-rencana investasi di sektor pariwisata. Karena jumlah turis yang cepat rebound, terutama di Bali misalnya, destinasi super kualitas itu adalah turis-turis di Australia,” bebernya.

Australia juga menyediakan sekolah vokasi hospitality untuk turis yang mumpuni. Dari sektor kesehatan, Negeri Kanguru juga tertarik untuk masuk ke dalam sektor kesehatan. Terutama untuk melayani konsumen kelas menengah atas.

Indonesia juga harus menguatkan investasi pangan strategis. Sebab, Australia keunggulan komoditas susu, daging, keju, dan turunannya. Sehingga, kunjungan tersebut sekaligus momen untuk mengajak Australia menjadi partner dalam investasi pangan. Ketimbang harus mengimpor banyak produk makanan dari Australia,
lebih baik diajak untuk berinvestasi, mengembangkan itu di dalam negeri.

“Terutama konteksnya adalah menjelang El Nino. Jadi butuh supply pangan bukan hanya untuk Indonesia, tapi harapannya bisa diekspor juga kembali ke Australia. Karena Australia juga kena dampak,” terang alumnus University Of Bradford itu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore