
Menkeu Purbaya Yudhi sadewa membandingkan pertumbuhan ekonomi era SBY dan Jokowi. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Keuangan Purbaya menyoroti soal keuangan Pemerintah Daerah (Pemda) yang tercatat surplus. Bahkan, uang tersebut cenderung hanya disimpan dan terus mengendap di kas daerah tanpa digunakan apapun oleh Pemda.
Hal ini disampaikan Purbaya saat dirinya menghadiri Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (20/10).
"Sebelum saya ngomong, saya tanya dulu ya Pak ya. Itu kalau anggaran daerah boleh defisit atau surplus apa enggak? Atau harus balance setiap tahun?” tanya Purbaya kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selalu pimpinan rapat.
Kemudian, pertanyaan itu dijawab Tito, bahwa sebetulnya daerah itu didorong untuk bisa memiliki surplus anggaran. Salah satu fungsinya bisa dijadikan sebagai cadangan untuk dimanfaatkan pada awal tahun baru.
Namun, kata Tito, ada juga sejumlah daerah yang mencatatkan keuangan defisit pada akhir tahun sehingga mengharuskan mereka ngutang. Salah satunya ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang merupakan Special Mission Vehicle (Kendaraan Misi Khusus) milik Kemenkeu.
"Umumnya kita targetnya mereka harus surplus pak. Supaya ada cadangan dan kemudian kalau seandainya mereka defisit, maka kalau nggak mau, harus ngambil dari SILPA atau ngutang, Pak. Dan banyak ada beberapa daerah yang ngutang," jawab Tito.
"Termasuk ngutang ke Kementerian Keuangan melalui PT SMI. Karena multi-infrastruktur. Saya kira Dirjen Perimbangan paham. Target semuanya kita harapkan surplus. Supaya pendapatannya lebih banyak daripada belanja," tambahnya.
Lebih lanjut, Purbaya kembali bertanya kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Askolani bahwa apakah anggaran yang surplus di daerah bisa diambil oleh Pemerintah Pusat atau tidak.
Lantas kemudian Askolani menjawab, bahwa Pemerintah sendiri mengarahkan Pemda untuk bisa memfokuskan belanja. Namun, ia menyebut bahwa anggaran surplus juga bisa disimpang dengan nilai terbatas dan tidak terlalu besar.
"Kita dorong supaya bisa digunakan tahun depan Pak. Di awal tahun tahun depan untuk belanja," ujar Askolani.
Selanjutnya, Purbaya langsung menyinggung Pemda Bojonegoro yang memiliki surplus anggaran mencapai Rp 3 triliun. Dalam hal ini bendahara negara menyoroti keberadaan PT ExxonMobil di daerah tersebut.
Bahkan, Purbaya meminta Pemda setempat untuk bisa memakmurkan para penduduk di Bojonegoro lebih dulu. Adapun tujuannya uang negara bukan hanya untuk nabung, tetapi juga demi menggenjot pertumbuhan ekonomi.
"Makmurkan lah duduk di situ. Kalau Pemda tujuannya bukan untuk nabung, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
