CEO Nvidia Jensen Huang (The Guardian)
JawaPos.com - Ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah menempatkan Nvidia di pusat gravitasi ekonomi global. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat itu kini bernilai lebih dari USD 4 triliun atau sekitar Rp 67.000 triliun dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS, menjadikannya salah satu korporasi paling berpengaruh dalam rantai pasok teknologi dunia.
Namun, di balik pertumbuhan yang luar biasa, struktur kesepakatan bisnis Nvidia mulai menguji kepercayaan investor global. Sebagai produsen cip dan perangkat lunak komputasi berperforma tinggi, Nvidia menjadi tulang punggung operasional sistem AI generatif, termasuk ChatGPT besutan OpenAI.
Infrastruktur Nvidia kini mengisi pusat data di berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Amerika Utara. Sepanjang 2025, perusahaan ini membukukan sedikitnya USD 125 miliar atau sekitar Rp 2.094 triliun dalam berbagai kesepakatan strategis, mulai dari investasi dengan Intel hingga komitmen jangka panjang dengan OpenAI dan penyedia komputasi awan CoreWeave.
Melansir The Guardian, Senin (29/12/2025), sorotan investor tidak hanya tertuju pada skala pertumbuhan Nvidia, melainkan pada pola kesepakatan yang dinilai bersifat sirkular. Dalam sejumlah kasus, Nvidia menanamkan modal ke mitra usaha yang kemudian menggunakan dana tersebut untuk membeli cip dan sistem buatan Nvidia sendiri, sebuah mekanisme yang mengingatkan sebagian analis pada praktik pembiayaan oleh pemasok atau vendor financing.
Pola tersebut memicu perbandingan dengan pengalaman pahit sektor teknologi pada awal 2000-an. Investor teknologi senior James Anderson, yang selama ini dikenal sebagai pendukung Nvidia, mengaku mulai lebih berhati-hati.
"Saya harus mengatakan bahwa istilah 'pembiayaan oleh pemasok' tidak membawa ingatan yang menyenangkan bagi orang seusia saya," ujar Anderson. "Ini memang tidak persis seperti yang dilakukan perusahaan telekomunikasi pada 1999–2000, tetapi memiliki kemiripan tertentu yang membuat saya tidak sepenuhnya nyaman."
Kekhawatiran semakin menguat ketika Nvidia juga menggunakan kendaraan pembiayaan khusus atau special-purpose vehicles (SPV) dalam sejumlah transaksi, termasuk entitas yang terkait dengan xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk. Skema semacam ini mengingatkan sebagian pengamat pada Enron, raksasa energi Amerika Serikat yang runtuh pada 2001 akibat praktik akuntansi agresif melalui SPV.
Nvidia secara tegas menolak perbandingan tersebut. Dalam memo internal yang dikutip The Guardian, manajemen perusahaan menegaskan bahwa laporan keuangannya "lengkap dan transparan" serta tidak menggunakan SPV untuk menyembunyikan utang atau menggelembungkan pendapatan. Nvidia juga menyatakan tidak bergantung pada pembiayaan oleh pemasok untuk mendorong pertumbuhan pendapatannya.
Namun, analis menilai persoalan utamanya bukan pada aspek legalitas, melainkan keberlanjutan. Analis Forrester, Charlie Dai, menegaskan, "Nvidia tidak menyembunyikan utang, tetapi sangat bertumpu pada permintaan yang didukung pembiayaan dari ekosistemnya sendiri. Ini menciptakan eksposur jika pertumbuhan AI melambat." Menurutnya, risiko utama terletak pada kemampuan pelanggan Nvidia menghasilkan arus kas yang cukup untuk menopang investasi besar mereka.
Di sisi lain, sejumlah analis pasar tetap melihat prospek jangka panjang Nvidia tetap kuat, seiring keyakinan bahwa AI akan menjadi fondasi transformasi ekonomi global. Meski demikian, kekhawatiran akan terbentuknya gelembung AI terus menghantui pasar, mengingat besarnya belanja modal dan utang yang menyertai pembangunan pusat data berskala raksasa.
Untuk itu, posisi Nvidia di jantung ekonomi global akan sangat ditentukan oleh satu faktor kunci: apakah ledakan AI benar-benar mampu menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan bagi para penggunanya. Jika janji revolusi AI tidak terwujud secepat yang diharapkan, struktur kesepakatan yang kini menopang pertumbuhan Nvidia justru berpotensi menjadi sumber tekanan baru bagi pasar global.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
