Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 04.12 WIB

7 Tips Mengatur Keuangan Bisnis Bakery agar Usaha Cepat Stabil dan Meraup Untung Tanpa Gulung Tikar

Ilustrasi usaha bakery (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi usaha bakery (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Membuka bisnis bakery memang terdengar manis, aroma roti yang keluar dari oven, senyum pelanggan yang puas, hingga mimpi punya toko roti sendiri yang selalu ramai. Tapi di balik itu semua, ada satu elemen penting yang sering kali menentukan apakah usaha ini bisa bertahan lama atau justru cepat gulung tikar: manajemen keuangan.

Mengatur uang dalam bisnis bakery bukan hanya soal mencatat pemasukan dan pengeluaran, tapi juga bagaimana merencanakan modal, mengelola biaya produksi, hingga mengantisipasi risiko.

Melansir dari laman WebstaurantStore, salah satu kunci sukses usaha bakery adalah merencanakan modal dengan detail sejak awal. Dari biaya sewa tempat, pembelian oven, hingga kebutuhan bahan baku, semuanya harus diproyeksikan dengan realistis. Tanpa perencanaan, banyak pengusaha baru yang kewalahan karena biaya operasional ternyata lebih besar dari perkiraan. Maka, menyusun anggaran awal seakurat mungkin bisa mencegah masalah keuangan di kemudian hari.

Sementara itu, Authentique French Bread menekankan pentingnya disiplin dalam penggunaan modal. Banyak pelaku usaha bakery yang terjebak dengan membeli peralatan mahal atau mencoba memproduksi terlalu banyak varian produk di awal. Padahal, strategi yang lebih bijak adalah memulai dengan produk andalan, membangun brand, lalu perlahan memperluas menu. Dengan begitu, pengeluaran bisa lebih terkendali, sementara pemasukan tetap stabil. Pengalaman nyata dari para pemilik bakery membuktikan bahwa kesabaran dalam mengatur keuangan adalah salah satu faktor keberhasilan usaha jangka panjang.

Berikut adalah 7 tips mengatur keuangan bisnis bakery agar usaha Anda cepat stabil dan meraup untung:

1. Memisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis

Dari sisi finansial, DBS Indonesia memberikan insight menarik tentang pentingnya memisahkan keuangan pribadi dan bisnis. Banyak pemilik usaha kecil yang masih mencampur keduanya, sehingga sulit mengetahui apakah usahanya benar-benar untung. Dengan membuka rekening khusus bisnis, mencatat arus kas harian, serta menyusun laporan sederhana setiap bulan, pelaku usaha bisa lebih mudah menganalisis kesehatan finansial bakery mereka. Selain itu, perencanaan dana darurat juga penting agar usaha tidak terguncang saat terjadi kenaikan harga bahan baku atau penurunan penjualan musiman.

2. Mengatur Cashflow dengan Membaca Tren Pasar

Mengatur keuangan dalam bisnis bakery juga berarti pintar membaca tren. Misalnya, saat harga tepung naik, pemilik usaha bisa menyesuaikan ukuran produk atau menawarkan paket bundling agar margin tetap terjaga. Atau saat penjualan turun di hari biasa, strategi pre-order bisa membantu mengurangi risiko stok tidak terjual. Semua langkah kecil ini jika dikelola dengan disiplin akan menjaga cashflow tetap sehat.

3. Pencatatan Biaya Produksi yang Detail

Selain itu, penting juga untuk memiliki pencatatan biaya produksi yang detail. Mulai dari bahan baku utama seperti tepung, gula, dan telur, hingga biaya tambahan seperti listrik dan gas oven. Dengan mencatat biaya per unit produk, pemilik bakery dapat mengetahui harga pokok produksi yang sebenarnya. Hal ini memudahkan dalam menentukan harga jual yang wajar namun tetap menguntungkan. Tanpa perhitungan yang akurat, bisnis bisa terjebak menjual produk enak tetapi merugi.

4. Pengelolaan Stok Bahan Baku yang Efisien

Pengelolaan stok bahan baku juga erat kaitannya dengan manajemen keuangan. Membeli bahan dalam jumlah besar memang bisa lebih murah, tetapi risiko bahan basi atau terbuang juga lebih tinggi. Karena itu, strategi pembelian bahan perlu disesuaikan dengan volume produksi harian atau mingguan. Beberapa bakery memilih sistem "just in time" agar bahan selalu segar dan biaya penyimpanan bisa ditekan.

5. Mengalokasikan Anggaran untuk Pemasaran

Tak kalah penting, pemasaran juga harus masuk dalam alokasi anggaran. Banyak pelaku usaha kecil lupa menyisihkan dana untuk promosi, padahal pemasaran adalah pintu untuk mendatangkan pelanggan baru. Dengan memanfaatkan media sosial, strategi promosi berbiaya rendah bisa dilakukan, misalnya melalui foto produk yang menarik, kerja sama dengan influencer lokal, atau penawaran paket hemat untuk acara tertentu. Semua biaya ini perlu dihitung agar tidak mengganggu cashflow utama.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore