
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebut kepala desa tidak ada bedanya dengan pegawai biasa (YouTube/Kang Dedi Mulyadi Channel)
JawaPos.com - Selain menjadi penguasa di pusat pemerintahan, kursi kepala desa juga menjadi incaran para raja-raja kecil di daerah. Nggak sedikit orang rela berjuang demi bisa menjadi kepala desa.
Sebab di beberapa tempat, posisi kepala desa atau kades dikenal dengan tempat yang juga "basah". Walaupun memiliki status sebagai pejabat desa, sayangnya, tak sedikit dari para kepala desa ini tidak memiliki sifat sebagai pengayom, sebagai pamong desa yang harusnya jadi pelayan bagi masyarakat desa.
Nggak heran, saat memberikan sambutan di acara Pelantikan DPD Apdesi Jawa Barat (Jabar) 2025, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi turut menyentil para kades di wilayah Jawa Barat. Dedi Mulyadi menyinggung tentang kelemahan pemimpin di tingkat desa.
"Apa sih kelemahan pemimpin kepala desa hari ini? Saya jujur katakan, kepala desa hari ini menjelma menjadi ahli adminitratif," ungkap Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengatakan, kepala desa saat ini menjelma menjadi pekerja administratif bukan tanpa alasan. Kepada seluruh pengurus dan anggota Apdesi se-Jabar, Gubernur Jawa Barat menyebutkan alasan pernyataannya itu.
"Saya sudah tidak bisa membedakan, mana kepala desa, mana pegawai. Kenapa mana kepala desa, mana pegawai? hidupnya di otaknya cuma satu, iyeu dana desa, asup administrasikeun kumaha carana nyokot tapi teu kapanggih," katanya berbahasa Sunda.
Melansir Radar Bogor (Grup JawaPos), Dedi Mulyadi menilai, hal tersebut harus segera dibenahi. "Kehilangan kedua kepala desa ini adalah kehilangan watak culture, watak budaya, watak pemimpin lingkungan, kehilangan hubungan dengan masa lalunya kepala desa," tuturnya.
Tidak hanya itu, menurut Dedi Mulyadi, kepala desa juga kehilangan hubungan dengan leuweung larangannya dan kehilangan hubungan dengan mata airnya. "Karena hubungannya sudah tidak ada, lahirlah kepala desa yang gelisah," lanjutnya.
Dedi Mulyadi menilai, kegelisahan tersebut karena lingkungan tidak bisa menerima. "Gelisah apa? duit cukup, mobil banyak, tapi gelisah terus kenapa? Karena lingkungannya tidak bisa menerima, maka hidupnya tidak ada ketenangan dan kedamaian," tandasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
