Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 16.24 WIB

Rentetan Kasus Keracunan MBG di Jogja, Sultan HB X: Saya Yakin Bukan Sengaja, Tapi Teledor

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Radar Jogja) - Image

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Radar Jogja)

JawaPos.com – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, persoalan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan terjadi karena kesengajaan, melainkan keteledoran dalam proses pengolahan hingga penyajian makanan.

Sebelum kasus terakhir di Kapanewon Turi, Sleman, kasus keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata sebelumnya juga terjadi. di Bantul

HB X menyoroti proses pengolahan makanan harus benar-benar memastikan kualitas bahan baku serta cara penyimpanan sebelum makanan dibagikan kepada penerima manfaat.

HB X menilai, bahan makanan seperti daging dan ikan memiliki risiko tinggi apabila tidak disimpan dengan baik. Terlebih jika pengelola menyiapkan stok dalam jumlah banyak untuk kebutuhan beberapa hari.

"Bagi yang punya kewajiban untuk menyiapkan makanan, ya hati-hati. Dilihat betul sebelum memasak. Entah sayur, daging, ikan, dan sebagainya, itu betul-betul dilihat," katanya saat ditemui di Kompleks Kepatihan kemarin, dilansir Radar Jogja (Jawa Pos Group), dikutip Rabu (9/9).

Dia mencontohkan, daging maupun ikan yang akan digunakan untuk memasak seharusnya disimpan di tempat pendingin yang memenuhi syarat.

Jika kebutuhan bahan makanan mencapai puluhan kilogram, kapasitas freezer maupun kulkas juga harus disesuaikan. "Harusnya menyediakan stok tiga hari. Misalnya 10 kg harus dimasukkan freezer,” ujarnya.

Menurut HB X, persoalan dapat muncul apabila kapasitas pendingin tidak mencukupi. Bahan makanan akhirnya diletakkan di luar dan kualitasnya menurun sebelum diolah. “Akhirnya hari berikutnya sudah warna biru, tidak layak dimakan, ya pasti keracunan,” jelasnya.

Selain bahan baku, HB X juga mengingatkan waktu memasak hingga makanan dikonsumsi. Dia menilai makanan tertentu, terutama sayuran yang menggunakan santan atau berkuah, memiliki risiko apabila terlalu lama dibiarkan sebelum dikonsumsi.

"Saya khawatir kalau sayur itu karena bisa ditinggal. Masa awal masaknya pukul 02.30, dimakan jam 08.00, berarti sudah basi,” tuturnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore