
ILUSTRASI orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
JawaPos.com - Berdasarkan ilmu kejiwaan, terdapat tiga faktor penyebab gangguan jiwa. Pertama, faktor biologi yang melibatkan genetik dan aspek keturunan. Kedua, adanya masalah yang terjadi pada neurotransmitter seseorang.
Ini sudah bawaan dari lahir dan mewarisi penyakit akibat faktor genetik. Sehingga membuatnya lebih mudah terpapar depresi sampai akhirnya mengalami gangguan jiwa berat. Contoh kasus, mereka yang mengalami kepribadian imatur (tidak matang).
"Seseorang akan merasakan masalah pada dirinya sendiri hingga merembet ke lingkungan sosial. Ke mana pun pergi, dia tidak akan cocok dengan lingkungan sosial itu," kata dokter Spesialis Kejiwaan Irma Armenia, dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (15/2).
Ketiga, masalah lingkungan, bagaimana pasien tersebut mengalami tekanan luar biasa baik dari lingkungan keluarga, pekerjaan, atau sosial. Seluruh faktor tersebut berhubungan dan menyebabkan stres yang dapat terakumulasi menjadi sebuah gangguan jiwa baik bersifat neurotik atau psikotik.
Ada beragam keluhan yang dirasakan pasien gangguan jiwa, di antaranya susah tidur, kadang sedih, tidak mau makan, ketakutan, putus asa, sampai hal yang ekstrem dengan melakukan percobaan bunuh diri.
Selain ada gangguan jiwa, ada pula yang mengalami gangguan kepribadian. Lalu apa perbedaannya?
Gangguan jiwa yakni terjadinya penyimpangan dari fungsi yang biasanya dilakukan orang tersebut. Mulai dari fungsinya sebagai pelajar, anak, pekerja, dan lainnya.
Sementara gangguan kepribadian, semua fungsi masih dapat diperankan dengan baik. Namun sesungguhnya menimbulkan ketidaknyamanan bagi lingkungan sekitar.
"Ada orang yang kemana pun dia berada orang di sekitarnya tidak nyaman. Jadi, dia di kelompok mana pun tidak cocok dengan orang lain. Sebenarnya dia tidak memiliki gangguan jiwa, tapi berpotensi karena dia sulit bersosialisasi," tutur pendiri Klinik Ego itu.
Walau tidak punya masalah internal, tapi fungsi sosialnya terganggu hingga membuatnya terkesan seperti dijauhi. Hubungan dengan orang lain tidak baik.
Irma menyebutkan, sejauh ini paling banyak pasien yang datang tergolong gangguan jiwa ringan dan sedang. Terutama gangguan cemas, terbagi lagi dalam beberapa jenis, misalnya panik, keadaannya sangat ketakutan secara tiba-tiba, jantung berdebar, merasa tercekik. Mirip dengan pasien serangan jantung. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan, dia sehat.
Kemudian gangguan cemas menyeluruh yang khawatir tentang sesuatu tidak jelas, waswas. Selanjutnya gangguan phobia, takut pada hal spesifik misalnya takut naik pesawat dan ketinggian.
Serta gangguan obsesif kompulsif, kebiasaan melakukan beberapa hal berulang-ulang dan gangguan stres pascatrauma. "Semua bermula dari cemas yang tidak tertanggulangi, kemudian stres, hingga depresi merasa putus asa dengan kondisinya," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022