Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 November 2018 | 02.35 WIB

Inalum Berpeluang Olah Bahan Baku Sendiri Tahun Depan

Manajemen PT Inalum bersama para pelanggan saat Temu Ramah di Hotel Adi Mulia, Jumat (9/11). - Image

Manajemen PT Inalum bersama para pelanggan saat Temu Ramah di Hotel Adi Mulia, Jumat (9/11).

JawaPos.com - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero terus mengembangkan sayapnya untuk selalu berusaha meningkatkan mutu dan kualitas dan kuantitas produksi aluminium setiap tahunnya.


Untuk itu, Inalum selalu melakukan terobosan yang dilakukan untuk selalu memberi kepuasan kepada para pelanggan PT Inalum dalam mendukung kegiatan bisnisnya.


Buktinya, di tahun 2019 mendatang, Inalum berpeluang memakai bahan baku sendiri. Hal itu diungkapkan oleh Plt Direktur Pelaksana PT Inalum (Persero), Oggy Achmad Kosasih.


Dikatakan Obby, selama ini pihaknya menggunakan bahan baku dari negara lain. Hal itu ternyata mempengaruhi harga produksi. "Apalagi terjadi lonjakan harga yang signifikan yang turut dipengaruhi faktor eksternal," kata Oggy, dalam keterangannya, Minggu (11/11).


Ia mengungkapkan, bahan baku yang akan dioleh sendiri adalah bauksit. Dimana bahan tersebut, bisa diolah dari alumina untuk jadi bahan baku "Itu yang akan kita lakukan tahun 2019 samai 2020 nanti. Nantinya, Inalum akan memiliki bahan baku sendiri. Juga karbon karena itu sampai seribu ton," paparnya.


"Untuk mengamankan pasokan alumina, Inalum bekerjasama dengan Antam dan mitra strategis akan mendirikan SGA refinery, dan dengan Pertamina membangun pabrik CPC. Ini diperlukan agar produk Inalum tetap dapat bersaing," tambahnya.


Hal tersebut juga diutarakan saat PT Inalum (Persero) menggelar acara temu ramah dihadiri perusahaan-perusahaan pelanggan PT Inalum, di Hotel Adimulia, Jumat (9/11) malam. Inalum saat itu, memberikan apresiasi kepada para pelanggannya.


Oggy melanjutkan, Inalum saat ini juga melakukan update teknologi. Dengan sumber energi yang ada selama ini, Inalum berupaya menghasilkan produk aluminiumnya dengan lebih banyak. Dari kapasitas 250 ribu menjadi 300an ribu ton per tahun.


"Disamping itu ada Billet dan alloy. Billet tiga puluh ribu dan alloynya sembilan puluh ribu. Kenapa lebih banyak Alloy, karena pandangan strategis kami ke depan. Apalagi ke depannya, kebutuhan Aluminium akan digerakkan oleh sektor otomotif yang mengarah ke mobil rangka ringan/mobil listrik, yang digunakan untuk rangka; velg dan breaker; transmission; engine block; cylinder head. Pengembangan mobil listrik ini sangat gencar dilakukan di China, Eropa dan Amerika. Kendaraan lebih banyak aluminium karena lebih ringan bahan bakarnya pasti lebih irit. Ban jadi lebih panjang masa gunanya," ujar pria yang juga Direktur Pengembangan Bisnis.


Tahun 2018 merupakan tahun yang sangat menantang bagi Inalum. Itu dikarenakan, pertama meningkatnya harga bahan baku utama CPC, CTP, Aluminium Floride dan yang tertinggi Alumina. Alumina bergerak dari harga rata2 $288 perton menjadi $614 perton, bahkan pernah mencapai $800 perton. Naik 2,13 x, atau 213%.


Padahal untuk memproduksi 1 ton Aluminium, dibutuhkan 2 ton Alumina. Bila Inalum produksi 100.000 ton Aluminium, maka Alumina sebesar 200.000 ton. Inalum harus menambah biaya sekitar $ 30 juta atau meningkatkan sekitar 6-7% HPP.


"Kalau dilihat harga LME cenderung flat diangka $2000/ton, Alumina mencapai 30% LME. Sesuatu yang belum pernah terjadi selama 10 tahun belakangan ini," ungkapnya.


Pada kesempatan itu, Oggy juga menyampaikan kasus pajak air permukaan Inalum yang masih bermasalah dengan Pemprov Sumatera Utara (Sumut) karena ada perbedaan perhitungan harga.


"Inalum menghitungnya berdasarkan harga air pembangkit listrik Rp.75/kwh, sebagaimana diatur. Sedangkan Pemda menghitungnya berdasarkan harga air industri Rp.1444/m3. Dengan kewajiban ini maka Inalum harus membayar ke Pemda sekitar Rp.480 miliar kepada Pemda. Atas pengenaan ini Inalum banding ke Pengadilan Pajak. Kami juga tidak tahu Pengadilan Pajak malah memenangkan Pemda. Sudah ada dua putusan, yang pertama adalah TDD dan yang kedua Ditolak. Tentunya dengan ketidakadilan ini Inalum akan menempuh upaya hokum lanjutan ke MA," jelas Oggy.


Inalum lanjut Oggy, juga akan selalu mendukung kebutuhan pelanggan dan mendorong supaya dapat melakukan ekspor. Apalagi saat ini Indonesia melalukan 30 ribu ton ekspor dan mungkin ada yang disupport dari pelanggan yang ada di sini. "Besar harapan kami, para pelanggan tetap seiring sejalan dalam mengembangkan usah bersama menumbuhkan industri berbasis aluminium yang mandiri," tandasnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore