
Kondisi perkampungan Balong, Kelurahan Sudiroprajan, Solo.
JawaPos.com - Kota Solo memiliki berbagai keunikan di setiap sudutnya. Keberagaman masyarakat dan budayanya menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Tidak hanya wisatawan dari dalam negeri, tetapi banyak juga wisatawan dari luar negeri.
Selain memiliki dua kampung batik, Solo juga mempunyai kampung yang tidak kalah menariknya. Kampung tersebut bernama kampung Kepanjen atau yang lebih dikenal dengan nama kampung Balong.
Kampung ini berada di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres. Lokasinya berada di belakang Pasar Gede Solo. Yang lebih menarik lagi adalah, kampung ini merupakan kampung pecinan di Solo. Bahkan kampung ini menjadi kampung pecinan terbesar di Kota Solo. Kebersamaan antara keturunan Tionghoa dan Jawa menyatu padu. Tidak terlihat ada sekat maupun pembeda.
Bahkan kedua keturunan dengan beda budaya ini sudah membaur sangat lama. Tidak pernah ada informasi jelas mengenai kehadiran warga Tionghoa di kampung Balong. Akan tetapi, mereka sudah ada sejak lama.
"Dari orang tua saya, warga Tionghoa sudah ada di sini. Jadi kalau ditanya kapan tepatnya saya juga tidak tahu, yang jelas sangat lama," terang sesepuh kampung Balong, Sudarsono, saat berbincang dengan JawaPos.com, Sabtu (13/10).
Kakek 82 tahun itu menambahkan, selama ini antara Jawa dan Tionghoa tidak ada pembeda. Bahkan tidak sedikit orang Jawa yang menikah dengan keturunan Tionghoa. Kebersamaan antara kedua keturunan yang berbeda itu sangat kuat. Melalui pernikahan inilah akhirnya terjadi akulturasi budaya.
Kawasan ini sering mengadakan berbagai kegiatan kebudayaan. Baik kebudayaan Tionghoa maupun kebudayaan Jawa. Dua kebudayaan ini disatukan dalam berbagai event budaya yang rutin diselenggarakan oleh Kelurahan Sudiroprajan maupun Pemkot Solo.
Ditanya mengenai nama Balong sendiri, menurut keterangan warga lainnya, Heri Bertus ,61, mengatakan, bahwa dulunya kampung tersebut merupakan pemakaman warga Tiongkok. Kemudian, warga keturunan Tiongkok menyebutnya dengan nama balong untuk menyebut balung. "Dan sejak saat itu dikenal dengan nama Balong," ucapnya.
Sementara itu, salah satu warga keturunan Tionghoa, Sumartono Hadinoto mengatakan, bahwa asimilasi warga yang menghadirkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa memang sudah hadir di Balong cukup lama.
"Kerukunan yang terjadi di Balong itu secara alami, sehingga kebersamaan mereka begitu kuat dan terjaga sampai sekarang. Tidak pernah ada konflik di sana, karena semuanya saling mendukung," ucapnya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
