
ILUSTRASI TERAPI SENI. (FREEPIK)
JawaPos.com - Kesehatan mental belakangan ini benar-benar menjadi isu atau pembicaraan semua kalangan. Tingginya rutinitas seseorang memicu stres. Stres tersebut membuat kesehatan mental seseorang jadi terganggu.
World Health Organization (WHO) dalam laman resminya menjelaskan, kesehatan mental merupakan kesejahteraan mental seseorang yang mampu menghadapi stres, menyadari kemampuan diri, mampu belajar dan bekerja dengan baik, serta mampu berkontribusi bagi komunitasnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Mulai dari faktor psikologis, biologis, pengaruh kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan sebagainya. Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan mental yakni dengan menyalurkan ekspresi perasaan dan pikiran dalam diri melalui seni.
Terapi Seni dan Kesehatan Mental
Dikutip dari laman American Art Therapy Association pada Selasa (14/1), terapi seni bertujuan untuk memperkaya kehidupan individu, keluarga, dan komunitas melalui kegiatan pembuatan karya seni, proses kreatif yang menerapkan teori-teori psikologi dan psikoterapi. Terapi seni dinilai efektif untuk membantu seseorang selama masa kesulitan, perubahan keadaan, trauma dan kesedihan.
Berdasarkan penelitian, terapi seni membantu mengendalikan hidup seseorang dan meredakan kecemasan serta depresi termasuk pada pasien kanker, pasien tuberkulosis yang sedang menjalani isolasi, dan veteran militer dengan PTSD (Post -traumatic stress disorder). Terapi ini juga membantu seseorang mengelola rasa sakit. Seseorang tidak harus pandai membuat karya seni dalam terapi seni.
Laman Alodokter dan Halodoc melansir bahwa usia anak-anak hingga lansia dapat mengikuti terapi seni. Terapi seni dibutuhkan oleh seseorang dengan beberapa keadaan ataupun kondisi tertentu di antaranya;
1. Trauma yang dialami anak-anak atau orang dewasa seperti kehilangan orang tersayang, cyberbullying, ataupun kekerasan seksual, fisik, atau emosional.
2. Pengelolaan stres yang tidak baik atau tekanan psikologis akibat permasalahan rumah tangga, keluarga, atau pekerjaan.
3. Anak dengan masalah perilaku seperti agresif, kasar dan sebagainya atau anak yang mengalami permasalahan dalam kegiatan belajar
4. Kondisi medis tertentu, seperti kanker atau cedera otak
5. Gangguan mental seperti gangguan kecemasan, PTSD, gangguan makan, atau depresi
6. Kecanduan obat-obat terlarang.
7. Permasalahan psikosial
8. Gangguan emosional
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022