
Ilustrasi rumah tahan gempa.
JawaPos.com - Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan gempa cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat pembangunan hunian di berbagai wilayah perlu mempertimbangkan aspek ketahanan terhadap guncangan gempa, terutama pada struktur bangunan.
Pakar teknik sipil struktur sekaligus dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir. Mudji Irmawan, M.T., mengatakan bangunan tahan gempa tidak semata-mata ditentukan oleh material yang digunakan. Tetapi juga oleh bagaimana struktur bangunan dirancang dan setiap komponennya disambungkan.
Menurut Mudji, masyarakat Indonesia sejak dahulu sebenarnya telah memiliki bentuk hunian yang relatif adaptif terhadap gempa. Rumah-rumah tradisional berbahan kayu, misalnya, cenderung memiliki bobot yang lebih ringan dan struktur yang lebih fleksibel sehingga mampu mengikuti guncangan.
Namun, perkembangan pembangunan membuat masyarakat semakin banyak menggunakan konstruksi beton bertulang, termasuk untuk rumah bertingkat. “Rumah beton tahan gempa itu harus disusun sedemikian rupa supaya konstruksinya menyambung. Kalau dari kayu ada pasak dan sebagainya, tetapi kalau dari beton bertulang, yang paling penting tulangan besinya harus terkait dengan baik,” ujar Mudji.
Dia menjelaskan, hubungan antara elemen struktur seperti balok dan kolom menjadi salah satu bagian penting yang harus diperhatikan. Sambungan tersebut harus mampu mempertahankan keutuhan struktur ketika bangunan menerima gaya akibat gempa.
Jika sambungan tidak dikerjakan dengan baik, guncangan gempa dapat menyebabkan elemen struktur terlepas atau mengalami kegagalan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko keruntuhan bangunan.“Terutama sambungan antara besi-besi tulangan, antara balok dan kolom, itu harus terkait dengan baik. Supaya pada saat terkena gempa dia tidak lepas dan rumah tetap tidak ambruk,” katanya.
Mudji menilai, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa dan memiliki keterbatasan biaya maupun kemampuan teknis perlu mempertimbangkan desain bangunan yang sederhana. Salah satu hal yang disarankannya adalah tidak membangun rumah terlalu tinggi apabila belum didukung perencanaan struktur yang memadai.
“Masyarakat yang cukup mampu untuk membangun rumah tahan gempa bisa secara mandiri dengan mengambil contoh-contoh bangunan rumah tinggal dari Kementerian PUPR. Petunjuknya sudah ada,” ujarnya.
Sementara bagi masyarakat yang belum memiliki kemampuan teknis maupun biaya yang memadai untuk membangun struktur yang lebih kompleks, Mudji menyarankan agar rumah tinggal tidak dibangun lebih dari dua lantai, khususnya di kawasan yang memiliki risiko gempa tinggi. Menurut dia, semakin tinggi bangunan, semakin besar pula konsekuensi yang dapat terjadi apabila struktur mengalami kegagalan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022