Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2026 | 02.02 WIB

Gempa NTT Jadi Alarm, ITS Uji Sensor Murah dan Rumah Tahan Guncangan di Ponorogo

ITS menguji sensor pendeteksi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo sebagai teknologi mitigasi bencana. (Dok. ITS) - Image

ITS menguji sensor pendeteksi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo sebagai teknologi mitigasi bencana. (Dok. ITS)

JawaPos.com — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menguji teknologi mitigasi gempa berupa sensor pendeteksi getaran real-time dan prototipe bangunan tahan gempa di Ponorogo, Kamis (20/8/2026), untuk menekan risiko korban serta kerusakan hunian di Indonesia, termasuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki tingkat kerawanan gempa cukup tinggi.

Bagaimana sensor ITS mendeteksi gempa secara real-time?

Sensor yang dikembangkan ITS mampu mendeteksi getaran tanah secara real-time, lalu mengirim notifikasi dan mengaktifkan alarm ketika getaran melewati ambang tertentu.

Inovasi tersebut dikembangkan Departemen Teknik Elektro Otomasi dan Departemen Teknik Sipil ITS bersama mitra Rabasa Beton, Ponorogo, sebagai bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana.

Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Dr Ir Berlian Al Kindhi SST MT menjelaskan, perangkat tersebut menggunakan mikrokontroler untuk membaca getaran tanah dan memberikan peringatan secara otomatis.

Informasi geolokasi serta data historis kemudian ditampilkan melalui situs web pemantauan insamo.id sehingga kondisi di sekitar lokasi sensor dapat dipantau secara digital.

Mekanisme ini membuat hasil pembacaan sensor tidak hanya menjadi alarm lokal, tetapi juga menjadi bagian dari sistem informasi yang dapat membantu melihat pola kejadian dan kondisi kebencanaan di suatu area.

Sistem tersebut dirancang agar informasi dari sensor bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan masyarakat ketika ancaman gempa muncul.

Mengapa sensor murah ini penting untuk masyarakat?

Keunggulan utama perangkat tersebut terletak pada biaya produksinya yang lebih rendah dibandingkan sensor sejenis yang sudah beredar di pasaran.

Kondisi ini membuka peluang pemasangan sensor di rumah-rumah masyarakat sehingga penghuni bisa memperoleh peringatan lebih cepat ketika terjadi guncangan.

Editor: Banu Adikara
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore