
Sejumlah abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggotong gunungan saat Garebek Syawal, Sabtu (16/6).
JawaPos.com - Seperti tahun-tahun sebelumnya, di hari kedua lebaran, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar sebuah tradisi. Tradisi tersebut, bernama Garebek Syawal.
Garebek Syawal merupakan sebuah tradisi yang sudah berjalan cukup lama. Dan selama ini, keraton Kasunanan Surakarta konsisten untuk mengadakan Garebek tersebut. Dalam Garebek tersebut, terdapat kirab hasil bumi yang sudah disusun berbentuk gunungan.
Gunungan ini, digotong oleh beberapa abdi dalem dari Keraton Kasunanan Surakarta sampai ke Masjid Agung Surakarta. Sebelum kirab berlangsung, ratusan warga maupun wisatawan sudah lama menunggu. Mereka bahkan sudah terlihat sejak beberapa jam sebelum gelaran dimulai. Ada yang kemudian mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini. Ada juga yang menggunakan kamera profesional.
Sesampainya di Masjid Agung, gunungan yang diberi nama Gunungan Jaler dan estri tersebut didoakan terlebih dahulu oleh ulama. Usai didoakan, selanjutnya gunungan akan dibagikan kepada warga yang sudah lama menunggu.
Tetapi, sebelum aba-aba pembagian dilakukan, warga sudah berebut untuk mendapatkan hasil bumi dari gunungan tersebut. Mitos berkah, menjadi salah satu alasan kenapa warga sampai berebutan untuk mendapatkan bagian dari gunungan.
Salah satunya adalah Rudi Djoa,45. Warga Jakarta itu, nekat ikut berebut gunungan demi mendapatkan berkah dari Keraton Kasunanan Surakarta. Padahal, awalnya Rudi bersama keluarga tidak mengetahui adanya Garebek Syawal.
Dirinya datang ke Solo untuk berbelanja di Pasar Klewer dan juga mengunjungi Keraton. "Baru tahu tadi, jadi ya kebetulan sekali ikut berebut gunungan," katanya.
Rudi pun antara percaya tidak percaya akan berkah dari gunungan tersebut. Meski begitu, dirinya tetap ikut dalam kerumunan warga yang berebut hasil bumi tersebut. "Kalau dapat ya dibawa pulang, katanya bisa mendatangkan berkah," ucapnya.
Sementara itu, Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo mengatakan, Garebek Syawalan diadakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, gunungan yang dikirab dan diberikan nama gunungan Jaler dan estri juga sebagai bentuk perwujudan dari asal muasal manusia.
"Ini merupakan sebuah tradisi yang rutin digelar oleh Keraton. Kirab Garebek syawal ini selalu diadakan setelah Ramadan. Kemudian yang gunungan itu semua hasil bumi sebagai wujud syukur kepada sang Pencipta," katanya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
