Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Juni 2018 | 23.44 WIB

Garebek Syawal Keraton Kasunanan Surakarta Diikuti Warga Jakarta

Sejumlah abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggotong gunungan saat Garebek Syawal, Sabtu (16/6). - Image

Sejumlah abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggotong gunungan saat Garebek Syawal, Sabtu (16/6).

JawaPos.com - Seperti tahun-tahun sebelumnya, di hari kedua lebaran, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar sebuah tradisi. Tradisi tersebut, bernama Garebek Syawal.


Garebek Syawal merupakan sebuah tradisi yang sudah berjalan cukup lama. Dan selama ini, keraton Kasunanan Surakarta konsisten untuk mengadakan Garebek tersebut. Dalam Garebek tersebut, terdapat kirab hasil bumi yang sudah disusun berbentuk gunungan.


Gunungan ini, digotong oleh beberapa abdi dalem dari Keraton Kasunanan Surakarta sampai ke Masjid Agung Surakarta. Sebelum kirab berlangsung, ratusan warga maupun wisatawan sudah lama menunggu. Mereka bahkan sudah terlihat sejak beberapa jam sebelum gelaran dimulai. Ada yang kemudian mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen yang hanya berlangsung setahun sekali ini. Ada juga yang menggunakan kamera profesional. 


Sesampainya di Masjid Agung, gunungan yang diberi nama Gunungan Jaler dan estri tersebut didoakan terlebih dahulu oleh ulama. Usai didoakan, selanjutnya gunungan akan dibagikan kepada warga yang sudah lama menunggu.


Tetapi, sebelum aba-aba pembagian dilakukan, warga sudah berebut untuk mendapatkan hasil bumi dari gunungan tersebut. Mitos berkah, menjadi salah satu alasan kenapa warga sampai berebutan untuk mendapatkan bagian dari gunungan. 


Salah satunya adalah Rudi Djoa,45. Warga Jakarta itu, nekat ikut berebut gunungan demi mendapatkan berkah dari Keraton Kasunanan Surakarta. Padahal, awalnya Rudi bersama keluarga tidak mengetahui adanya Garebek Syawal.


Dirinya datang ke Solo untuk berbelanja di Pasar Klewer dan juga mengunjungi Keraton. "Baru tahu tadi, jadi ya kebetulan sekali ikut berebut gunungan," katanya. 


Rudi pun antara percaya tidak percaya akan berkah dari gunungan tersebut. Meski begitu, dirinya tetap ikut dalam kerumunan warga yang berebut hasil bumi tersebut. "Kalau dapat ya dibawa pulang, katanya bisa mendatangkan berkah," ucapnya.


Sementara itu, Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo mengatakan, Garebek Syawalan diadakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, gunungan yang dikirab dan diberikan nama gunungan Jaler dan estri juga sebagai bentuk perwujudan dari asal muasal manusia. 


"Ini merupakan sebuah tradisi yang rutin digelar oleh Keraton. Kirab Garebek syawal ini selalu diadakan setelah Ramadan. Kemudian yang gunungan itu semua hasil bumi sebagai wujud syukur kepada sang Pencipta," katanya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore