
seseorang yang dihormati seiring bertambahnya usia (Freepik/prostooleh)
JawaPos.com - Mengasuh anak bukan hanya tentang memastikan mereka tumbuh sehat dan berprestasi. Salah satu harapan terbesar banyak orang tua adalah tetap dihormati oleh anak-anak mereka ketika mereka dewasa nanti. Namun, rasa hormat tidak muncul secara otomatis hanya karena status sebagai orang tua. Dalam psikologi keluarga, rasa hormat biasanya tumbuh dari hubungan yang penuh empati, konsistensi, dan komunikasi yang sehat.
Banyak orang tua tanpa sadar melakukan perilaku tertentu yang justru merusak hubungan jangka panjang dengan anak. Anak mungkin tetap patuh saat kecil, tetapi ketika dewasa mereka bisa menjadi jauh secara emosional, enggan berkomunikasi, atau bahkan menyimpan luka batin.
Menurut prinsip dalam bidang Psikologi Perkembangan dan Psikologi Keluarga, hubungan yang sehat antara orang tua dan anak dibangun dari rasa aman, penghargaan, dan komunikasi yang saling menghormati. Jika Anda ingin anak-anak tetap menghargai Anda ketika mereka dewasa, ada beberapa perilaku yang sebaiknya mulai ditinggalkan sejak sekarang.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat sepuluh perilaku yang menurut psikologi dapat merusak rasa hormat anak terhadap orang tua.
1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak
Mengontrol setiap aspek kehidupan anak—mulai dari pilihan teman, hobi, hingga masa depan—sering kali dilakukan dengan niat baik. Namun jika dilakukan secara berlebihan, anak bisa merasa tidak dipercaya.
Psikologi menunjukkan bahwa anak yang terus-menerus dikontrol cenderung tumbuh dengan dua kemungkinan: menjadi sangat bergantung atau justru memberontak. Dalam kedua kasus tersebut, rasa hormat terhadap orang tua bisa berubah menjadi ketakutan atau bahkan kebencian.
Anak membutuhkan ruang untuk belajar membuat keputusan dan memahami konsekuensi dari pilihan mereka.
2. Tidak Mau Mengakui Kesalahan
Banyak orang tua percaya bahwa mereka harus selalu terlihat benar di hadapan anak. Padahal, sikap ini dapat membuat anak merasa bahwa orang tua tidak adil.
Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, itu menunjukkan kedewasaan emosional. Ketika orang tua mampu berkata, “Maaf, Ayah/Ibu salah,” anak belajar bahwa tanggung jawab dan kejujuran adalah nilai penting.
Sikap ini justru memperkuat rasa hormat anak terhadap orang tua.
3. Meremehkan Perasaan Anak
Kalimat seperti:
“Ah, itu masalah kecil.”

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
