
Ilustrasi orang tua yang selalu stres (freepik)
JawaPos.com – Ada sebuah kisah dari penulis geediting.com bernama Eliza Hartley, ia tumbuh besar di sebuah rumah yang tampak biasa dari luar, tetapi menyimpan ketegangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Kedua orang tuanya penuh kasih sayang, namun selalu dikejar oleh tekanan hidup—tagihan yang menumpuk, tenggat yang tak henti datang, hingga persoalan keluarga yang seperti bom waktu.
Bahkan pada hari yang terlihat tenang, ada rasa sesak yang mengambang di udara. Butuh waktu panjang bagi Eliza untuk memahami betapa kuatnya dampak stres lingkungan keluarga terhadap tubuh dan pikirannya.
Ia menyerap semuanya tanpa sadar, bereaksi terhadap hidup seolah-olah ancaman selalu mengintai. Jika Anda dibesarkan dalam suasana serupa, Anda mungkin mengalami pola yang sama tanpa menyadarinya.
Yang perlu diingat adalah: apa pun yang dipelajari dapat dipelajari ulang. Menyadari polanya adalah titik balik.
Dilansir dari geediting.com, berikut tujuh kecenderungan cemas yang kerap diwarisi anak dari orang tua yang hidup dalam stres berkepanjangan.
1. Selalu Memindai Masalah Sebelum Masalah Itu Muncul
Anak belajar lebih banyak dari pengamatan dibanding perkataan. Jika orang dewasa di sekitarnya selalu waspada, gelisah, atau bersiap menghadapi tantangan berikutnya, anak pun akan menginternalisasi pola yang sama.
Sistem saraf terbiasa mengantisipasi bahaya, bahkan saat kondisi sebenarnya aman.
Hipervigilansi ini sering terasa logis: memutar ulang percakapan, terlalu sensitif dengan nada bicara orang lain, atau terus-menerus membayangkan skenario terburuk.
Dulu, Eliza menganggap kebiasaan itu tanda tanggung jawab. Nyatanya, tubuhnya hanya terbiasa hidup dalam alarm.
Kewaspadaan berlebihan mungkin membantu di masa kecil, tetapi melelahkan saat dewasa.
Bertanya pada diri sendiri “Apa yang benar-benar terjadi sekarang, dan apa yang hanya saya prediksi?” adalah cara perlahan memulihkannya.
2. Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Semua Orang
Orang tua yang stres sering kesulitan mengatur emosinya sendiri. Anak akhirnya belajar menjadi penstabil suasana—penolong, penyangga, atau pendamai.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
