Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 15.44 WIB

Mengenal Masjid Menara Kudus, Bangunan dengan Arsitektur Hindu Islam

 
 

Masjid Al Aqsa dan Menara Kudus.

JawaPos.com - Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan era Sunan Kudus atau Ja'far Shodiq. Lokasinya berada di Jalan Menara, Pejaten, Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
 
Di sekitar kompleks tersebut, juga ada Makam Sunan Kudus dan tokoh-tokoh ulama Kudus. Setiap hari tempat itu tidak pernah sepi dari wisatawan religi dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah.
 
Masjid yang bernama Masjid Al Aqsa ini punya bangunan yang unik. Yakni, dibentuk dengan arsitektur bergaya Hindu-Islam.
 
 
Hal itu bisa dilihat atap tajug bertingkat dua pada menara yang khas arsitektur Hindu. Selain itu, ornamen lainnya juga terdapat di bagian kaki dan tubuh bangunan. 
 
Masjid dengan konsep akulturasi ini memiliki makna yang mendalam. Mengutip dari Radar Kudus, Humas Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus, Denny Nur Hakim, mengatakan penggunaan bentuk tradisional yang dicetuskan Sunan Kudus mengajarkan tentang toleransi beragama. Islam datang dengan cara damai, tidak menghapus budaya yang sudah ada melainkan memadukannya dengan nilai Islam.
 
Masjid Al Aqsa didirikan Sunan Kudus pada 19 Rajab 956 Hijriyah, atau bertepatan dengan 23 Agustus 1549 Masehi. Keterangan tersebut, tercatat dalam prasasti yang terletak dekat dengan mihrab imam masjid. 
 
 
Denny menyebut, prasasti itu menjelaskan tentang penamaan nama masjid, tanggal, kota, dan pendiri. 
 
"Prasasti tersebut menyebutkan empat poin penting: nama masjid (Al Aqsha), nama wilayah (Al Quds, kini Kudus), tanggal pendirian, dan nama pendiri, yaitu Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus," jelas Denny. 
 
Merujuk dalam Jurnal Candi Universitas Sebelas Maret karya Dedik Agus Indra F dan Djono Isawati,  yang berjudul Nilai Historis Komplek Makam Sunan Kudus Sebagai Bahan Pengembangan Sumber Belajar Sejarah Lokal, berdirinya komplek Menara Kudus dalam kondisi sosial yang kurang baik. Masyarakat masih mengenal sistem kasta karena pengaruh ajaran Hindu. Hal itu jadi tantangan tersendiri bagi Sunan Kudus dalam mengenalkan agama Islam. 
 
Sunan Kudus mendirikan masjid dengan cara menerapkan akulturasi budaya Hindhu dan Islam, agar masyarakat Kudus menerima dengan baik dan dengan sendirinya bisa memeluk agama Islam. 
 
Kemudian, menara masjid dibangun menyerupai candi. Serta adanya tempat untuk berwudhu yang mengadopsi ajaran Budha yaitu kepala arca Kebo Gumarang, yang dikenal dengan Asta 
Sanghika Marga atau delapan jalan mencapai kebenaran. Artinya, pengetahuan yang 
 
benar, keputusan yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, cara hidup 
yang benar, daya dalam hidup, usahan untuk menjalani kehidupan, meditasi dan 
keutuhan. 
 
Seiring perkembangan waktu, masjid dan area makam dilakukan peremajaan. Masjid ini mengalami tiga kali perluasan, yakni pertama pada tahun 1918-1919, kedua pada tahun 1927, dan terakhir pada tahun 1933.
Sejak zaman Sunan Kudus hingga sekarang, Masjid Al Aqsa menjadi pusat dakwah dan kegiatan keagamaan, yang dilakukan rutin setiap hari. 
 
Selain tampilan yang memukau, Masjid Menara Kudus tidak hanya sebatas simbol toleransi saja, melainkan warisan budaya yang harus dilestarikan. 
 
Demi menjaga benda bersejarah ini, pemerintah daerah kemudian menetapkan Menara Kudus sebagai Cagar Budaya kategori Situs Tingkat Nasional berdasarkan SK Menteri No 049/M/1999, SK Menteri No 111/M/2018, dan No REGNAS RNCB. 19990325.04.000294.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore