Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Agustus 2024 | 15.55 WIB

Tak Ada Lagi 'Bukit Teletubbies' di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Dua Nama Lokasi ini juga

Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79 tahun Republik Indonesia, di Laut Pasir Bromo. (ANTARA) - Image

Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79 tahun Republik Indonesia, di Laut Pasir Bromo. (ANTARA)

JawaPos.com - Bukit Teletubbies di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sempat viral dan mencuri perhatian masyarakat akibat insiden kebakaran dipicu flare dari sepasang kekasih yang melakukan foto prewedding. Beberapa bulan berlalu dan kembali menghijau, Bukit Teletubbies untuk kedepannya tak bakal lagi terdengar.

Bukan lantaran fisiknya yang menghilang, akan tetapi nama Bukit Teletubbies dipastikan tidak akan eksis lagi. Ini setelah Balai Besar TNBTS bersama romo dukuh dan tokoh masyarakat Tengger sepakat mengembalikan penyebutan tiga lokasi wisata di kawasan tersebut ke nama aslinya sebagai upaya pelestarian budaya lokal.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS Septi Eka Wardhani di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, menyatakan lokasi wisata yang dimaksud, yakni Bukit Teletubies, Bukit Cinta, dan Bukit Kingkong. "Bukit Teletubies dikembalikan menjadi Lembah Watangan karena berdasarkan sejarahnya lokasi itu merupakan dataran rendah yang pada seribu tahun yang lalu ditumbuhi pepohonan vegetasi asli Tengger," kata Septi, dikutip dari Antara, Senin (19/8).

Pepohonan di sana, awalnya dalam kondisi sangat terjaga hingga akhirnya roboh dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. "Banyaknya pohon watang yang roboh di lokasi tersebut, maka dinamakan Lembah Watangan," ujarnya.

Kemudian untuk Bukti Cinta, Septi menyatakan lokasi tersebut dikembali sesuai nama aslinya, yakni Lemah Pasar. "Lemah Pasar yang nama aslinya adalah Pasar Agung yang merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan upacara," ucapnya.

Septi menyatakan untuk Bukit Kingkong memiliki nama asli Bukit Kedaluh yang berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu Kada dan Luh. "Kada artinya merindukan dan Luh artinya pemberi hujan atau Dewa Indra. Oleh karena itu Kadaluh artinya merindukan pemberi hujan dengan harapan kesuburan untuk wilayah Tengger," imbuhnya.

Septi menjelaskan deklarasi pengembalian penamaan tiga lokasi wisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dilakukan setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79 tahun Republik Indonesia, di Laut Pasir Bromo.

"Ditandai dengan pembacaan deklarasi oleh Kartono dan penandatanganan Deklarasi oleh Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, romo dukun Tengger, tokoh masyarakat Tengger, serta seluruh pejabat administrator," kata dia.

Selain itu, TNBTS bersama pihak terkait juga meresmikan signage atau papan tanda yang telah diganti menggunakan nama lokal, yaitu pada lokasi Lembah Watangan. Ia berharap upaya pelestarian budaya ini didukung upaya dari banyak pihak dengan melakukan sosialisasi tiga lokasi itu sesuai dengan nama aslinya.

"Mulai dari instansi pemerintah sampai wisatawan turut mempublikasikan nama lokal tersebut," tuturnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore