Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Mei 2026 | 01.58 WIB

Upaya Kolaborasi Pelestarian Macan Tutul Jawa Berhasil Identifikasi 8 Individu di TNBTS

Kamera pengintai program Java Wide Leopard Survey (JWLS) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berhasil merekam macan tutul Jawa. Hingga Juli 2025, survei tahap pertama mengidentifikasi sedikitnya delapan individu. (istimewa) - Image

Kamera pengintai program Java Wide Leopard Survey (JWLS) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berhasil merekam macan tutul Jawa. Hingga Juli 2025, survei tahap pertama mengidentifikasi sedikitnya delapan individu. (istimewa)

 

JawaPos.com – Berkurangnya populasi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) mengancam keseimbangan ekosistem hutan. Peringatan Hari Macan Tutul Internasional menjadi momentum untuk menggiatkan kembali upaya konservasi salah satu spesies endemik Pulau Jawa ini.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono mengungkapkan habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir. Dalam kondisi ini, macan tutul Jawa kerap terdorong keluar dari habitat alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga.

Menurut Hariyo, kebutuhan dasar macan tutul Jawa sesungguhnya sederhana, antara lain habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajahnya, serta tetap terhubung antarkawasan. Dalam kondisi Pulau Jawa seperti saat ini, menurut Hariyo, memahami satwa liar bukan lagi sekadar pengetahuan, tapi sudah kebutuhan.

"Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak.  Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang. Maka, jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan," kata Hariyo, dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (5/5).

Hariyo menambahkan, keterbatasan data menjadi tantangan lain yang tak kalah penting. Tanpa informasi yang akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran. Oleh karenanya, dukungan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA dalam proses pendataan populasi pun menjadi penting sebagai dasar perencanaan konservasi jangka panjang.

Sejak 2024, Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) dan Yayasan SINTAS Indonesia menjalankan Java Wide Leopard Survey (JWLS) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai dukungan terhadap penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul Jawa.

"Kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia," kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn.

Hingga Juli 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya 8 individu macan tutul Jawa, terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan. Sementara itu, survei tahap kedua masih berlangsung pada 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh.

Program ini juga telah melatih 84 peserta untuk teknik survei menggunakan kamera pengintai dan 16 peserta untuk teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai dari berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE dan BBKSDA Jawa Timur, dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore