
Samsung Galaxy M20 sudah hadir di Indonesia. (Rian Alfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com – Samsung awal pekan lalu menghadirkan perangkat teranyarnya Galaxy M20 di Indonesia. Smartphone tersebut menyasar segmen middle-low dengan harga mulai Rp 2 jutaan. Selanjutnya, Samsung berencana menghadirkan varian murah lainnya yakni Galaxy M10 di Indonesia.
Kemunculan line-up baru Samsung Galaxy M Series sendiri ada dua kemungkinan. Pertama, perangkat tersebut hadir di India pertama kali sebagai upaya Samsung membalik keadaan yang telah kalah dari vendor Tiongkok yakni Xiaomi untuk tahun 2018 berdasarkan data IDC. Samsung yang pernah jadi raja di sana harus takluk dan mengakui keagresifan Xiaomi.
Kemungkinan kedua, Samsung yang tak lama setelahnya merilis smartphone tersebut di Indonesia mungkin sebagai bentuk antisipasi mereka agar tidak kecolongan dan kalah dari Xiaomi seperti di India.
Di Indonesia, Samsung masih jadi raja. Berdasarkan data IDC hingga kuartal ketiga tahun 2018, Samsung masih memimpin pasar smartphone tanah air. Namun lagi-lagi, Samsung tidak bisa lepas dari 'bayang-bayang' Xiaomi. Pasalnya, Xiaomi mengekor di urutan kedua setelah Samsung berdasarkan data Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia.
Menyoal Samsung Galaxy M dan bayang-bayang Xiaomi, pengamat gadget Lucky Sebastian menilai, kali ini mungkin saatnya bagi Samsung untuk berubah (di pasar smartphone low-end). Walaupun masih menjadi leader di Indonesia, namun jika tidak mengikuti arus, Samsung akan kalah.
“Kita lihat sejarah Nokia dan BlackBerry. Mereka leading kala itu. Kemudian Android datang. Mereka tidak mau mengikuti arus. Mereka kemudian kalah kan sekarang,” kata Lucky kepada JawaPos.com melalui sambungan telepon.
Lucky yang juga founder dari komunitas pencinta gadget Gadtorade itu menyebut bahwa saat ini Samsung sangat berhati-hati dalam mengikuti tren, termasuk menghadirkan smartphone murah. Artinya, semua tindakan dan keputusan harus berdasarkan data. “Samsung belum terlambat, mereka hanya sangat hati-hati. Samsung ini perusahaan yang bertindak berdasarkan data. Yang kita lihat kan hanya di permukaan. Kita tidak tahu apa yang dilakunan Samsung di dalam,” jelas Lucky.
Lucky melanjutkan, hadirnya seri Galaxy M di Indonesia mirip-mirip dengan strategi Samsung di India. Kehadiran Samsung Galaxy M Series di India tujuannya memang diketahui untuk beradu dengan Xiaomi. Di Indonesia mungkin demikian. Karena pasar India dengan Indonesia memang mirip dengan masyarakat yang suka perangkat murah.
“Kalau di India sukses, di Indonesia mungkin sukses juga. Kira-kira ramuan yang sama bisa dipakai Samsung di Indonesia untuk meng-handle dominasi vendor Tiongkok,” terangnya.
Lebih lanjut, apakah Samsung terlambat yang baru mulai menghadirkan perangkat murah yang lebih segar? Setelah sekian lama digempur habis oleh vendor Tiongkok yang berakibat pada kekalahan mereka di India. Menurut Lucky, terlambat atau tidak, hal tersebut mesti melihat hasil akhirnya dulu. “Kita mesti melihat lagi apakah dia bisa membalik keadaan. Kalu ternyata bisa, ya berarti tidak terlambat. Tapi kalau ternyata tidak dan terus tergerus mungkin dia memang terlambat. Kita tunggu saja nanti hasil akhirnya,” bebernya.
Sementara untuk kehadiran perangkat murah lainnya, yakni Galaxy M10, Lucky menyebut bahwa smartphone tersebut bisa menjadi senjata juga bagi Samsung untuk menghadapi bayang-bayang Xiaomi di Indonesia. Namun dengan catatan. Samsung mesti intens menjaga momentum. “Market low-end kita masih sangat besar. Sama dengan India. Kalau Samsung bermain di sini dan masuk itu akan sangat diminati. Seperti seri Galaxy J dulu kan yang bisa bertahan lama,” tuturnya.
Selain itu, Samsung juga memiliki keunggulan dibanding vendor Tiongkok. "Samsung memiliki arus distribusi yang baik, layanan after sales yang baik dan itu tidak dimiliki vendor Tiongkok. Ini yang harusnya bisa menjadi senjata Samsung,” tegas Lucky.
Lucky menambahkan, kalau Samsung ikut bermain di seri low-end dengan harga Rp 1-2 jutaaan ditambah keunggulan mereka tadi yang tidak dimiliki vendor Tiongkok, konsumen pasti akan kembali.
“Samsung yang jelas bisa bersaing. Kalau untuk membalik keadaan masih belum tahu. Apakah produk baru bisa dikatakan sukses kan tergantung kepada konsumen. Namun dalam hal ini Samsung tidak bisa hanya bergantung dengan satu produk. Mereka harus gencar seperti Xiaomi yang rutin mengeluarkan produk baru,” ucapnya.
“Mereka harus bisa menunjukan keseriusan mereka dengan produk yang mirip-mirip dengan Tiongkok. Lebih bagus, lebih menarik dengan harga yang murah. Ini kemungkinan Samsung bisa membalik keadaan. Tinggal nanti pasar yang menentukan apakah mereka lebih tertarik menggunakan Samsung atau Xiaomi,” sambungnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
