
John Ternus menghadapi ujian awal kepemimpinan di Apple di tengah lonjakan biaya cip memori, persaingan AI, dan tekanan terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan (Fortune)
JawaPos.com - Dua bulan pertama John Ternus sebagai CEO Apple diwarnai peluncuran produk baru, termasuk iPhone lipat Duo. Namun, keberhasilan tersebut belum cukup menjamin kepercayaan pasar. Perusahaan bernilai USD 4,9 triliun atau sekitar Rp88.739 triliun (dengan kurs Rp18.110 per dolar AS) itu kini menghadapi kenaikan biaya cip memori, perlambatan bisnis layanan, serta persaingan kecerdasan buatan (AI) yang semakin ketat.
Tekanan terlihat setelah Apple mengumumkan kinerja kuartal September yang melampaui perkiraan laba Wall Street. Alih-alih menguat, saham perusahaan justru melemah dalam perdagangan setelah bursa ditutup. Investor mengkhawatirkan proyeksi penyusutan margin keuntungan dan perlambatan pertumbuhan Services, termasuk iCloud dan App Store, yang belum diimbangi strategi pemulihan pendapatan secara jelas.
Dilansir dari Fortune, Kamis (5/11/2026), laporan keuangan tersebut menjadi penampilan pertama Ternus, 51, dalam konferensi telepon bersama analis. Dia turut menyerahkan sejumlah pertanyaan kepada Direktur Keuangan Kevan Parekh dan Direktur Operasional Sabih Khan.
Keduanya akan dilibatkan dalam konferensi berikutnya, mengakhiri kebiasaan Apple selama beberapa tahun yang hanya menampilkan CEO dan pejabat keuangan. Meski menyebut Apple sebagai "perusahaan terbesar di dunia", Ternus belum memberikan banyak penjelasan konkret mengenai tantangan perusahaan.
Salah satu tekanan terbesar berasal dari lonjakan harga cip memori yang digunakan dalam perangkat Apple. Ternus mengakui, "Kenaikan harga memori yang kami hadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi tersebut telah menekan harga produk kami." Dia memperkirakan biaya pembelian memori masih meningkat setelah kuartal Desember. Apple bahkan menaikkan harga sejumlah produk untuk mengimbangi kenaikan biaya tersebut.
Akibatnya, margin kotor Apple diperkirakan turun menjadi 45–46 persen pada kuartal Desember, dibandingkan 47,9 persen pada kuartal September. Capaian sebelumnya turut terbantu pengembalian tarif impor yang menyumbang sekitar satu poin persentase.
Selain kenaikan harga memori, pengembangan Siri berbasis AI juga menambah pengeluaran. Investor Gene Munster memperingatkan, "Kami memasuki periode liburan ini dengan lebih banyak risiko penurunan daripada peluang kenaikan."
Di tengah tekanan biaya, Apple juga belum meyakinkan pasar mengenai strategi AI-nya. Siri versi terbaru yang masih diluncurkan secara bertahap dinilai tertinggal dari chatbot OpenAI dan Anthropic serta asisten AI personal yang dikembangkan Meta.
Ternus mengakui Siri "saat ini pada dasarnya masih bekerja berdasarkan permintaan pengguna". Dia menyebut kemampuan AI agen sebagai "perangkat yang menjanjikan bagi pengguna", tetapi menekankan pentingnya keamanan, privasi, dan persetujuan pengguna atas akses yang diberikan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022