Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 September 2026 | 18.25 WIB

Jensen Huang Bantah Klaim AI Akan Memusnahkan Manusia pada 2030

CEO Nvidia Jensen Huang menilai prediksi kepunahan manusia akibat AI tidak memiliki dasar ilmiah (The Guardian) - Image

CEO Nvidia Jensen Huang menilai prediksi kepunahan manusia akibat AI tidak memiliki dasar ilmiah (The Guardian)

JawaPos.com - Perdebatan mengenai seberapa jauh kecerdasan buatan (AI) boleh dikembangkan kembali memanas setelah CEO Nvidia Jensen Huang menolak prediksi bahwa teknologi itu dapat menyebabkan kepunahan manusia dalam beberapa tahun. Huang, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam industri AI karena Nvidia memasok cip yang digunakan untuk membangun dan menjalankan berbagai sistem AI. 

Karena itu, pernyataannya mengenai masa depan teknologi mendapat perhatian luas, terlebih ketika dia menegaskan bahwa AI tidak akan memusnahkan manusia pada 2030. Nvidia sendiri kini memiliki nilai sekitar USD 5 triliun atau Rp89.300 triliun dengan kurs Rp17.860 per dolar AS, mencerminkan besarnya posisi perusahaan dalam industri AI global.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (22/9/2026), Huang mengatakan dalam wawancara dengan CBS News bahwa prediksi AI akan mengakhiri kehidupan manusia pada 2030 tidak berdasar. "2030 bukanlah akhir dunia. Ada kemungkinan nol persen bahwa itu akan menjadi akhir dunia," kata Huang. Dia menambahkan, "Menakut-nakuti orang dengan klaim itu tidak perlu. Itu tidak bertanggung jawab."

Pernyataan itu ditujukan antara lain kepada Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic, yang sebelumnya memperingatkan bahwa perusahaan AI sedang berlomba menuju sistem yang mampu meningkatkan kemampuannya sendiri hingga melampaui kemampuan manusia. Coxon memperingatkan bahwa teknologi semacam itu berpotensi membunuh umat manusia sebelum akhir dekade. Kekhawatiran tersebut kemudian didukung oleh dua peneliti Anthropic lainnya.


Perdebatan itu tidak berhenti pada prediksi. Anthropic telah menerbitkan laporan intelijen ancaman mengenai upaya kriminal, kelompok yang disponsori negara, penyedia spyware, ilmuwan, dan propagandis memanfaatkan model AI untuk merancang rudal serta bom, membuat patogen mematikan, hingga memata-matai kelompok yang menjadi sasaran. Insiden keamanan yang melibatkan sistem AI juga menjadi alasan sejumlah tokoh industri menyerukan pengembangan yang lebih terkendali.

Sebaliknya, Huang berpendapat bahwa masalah tersebut seharusnya terlebih dahulu ditangani menggunakan hukum yang sudah tersedia.

"Anda memiliki undang-undang tentang akses tidak sah dalam keamanan siber, kewajiban atas kerusakan, serta berbagai kewajiban terkait produk. Jika produk Anda menimbulkan kerugian atau tidak bekerja seperti yang dijanjikan, sudah ada banyak hukum yang berlaku. Intinya, terapkan itu terlebih dahulu," ujarnya.

Huang juga menilai seruan sebagian perusahaan AI untuk membuat aturan baru berpotensi mengaburkan persoalan tanggung jawab hukum. 

"Coba lihat lebih jauh. Mereka sebenarnya tidak meminta lebih banyak undang-undang. Mereka meminta dibebaskan dari undang-undang yang sudah kita miliki. Dan menurut saya, itu masalahnya," katanya. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore