Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 03.28 WIB

Tiongkok Tak Mengejar AS dalam AI, Melainkan Membangun Ekosistem Terbuka untuk Menembus Pasar Global

Pelancong melintas di depan iklan Alibaba Cloud di Bandara Internasional Bao’an, Shenzhen, Tiongkok (Fortune) - Image

Pelancong melintas di depan iklan Alibaba Cloud di Bandara Internasional Bao’an, Shenzhen, Tiongkok (Fortune)

JawaPos.com - Persaingan AI global kini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling unggul membangun model paling canggih. Sebaliknya, yang mengemuka adalah dua pendekatan berbeda antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang mulai membentuk arah baru industri teknologi, dengan nama-nama seperti OpenAI, Google, Nvidia, hingga Alibaba berada di tengah pergeseran itu.

Perubahan arah tersebut mulai terlihat jelas pada awal 2025, ketika kemunculan DeepSeek dari Hangzhou menjadi salah satu titik pembalik persepsi. Perusahaan ini meluncurkan model bahasa besar (LLM) berbasis penalaran yang diklaim hanya membutuhkan biaya sekitar USD 6 juta atau setara Rp106,38 miliar (kurs Rp17.730 per dolar AS), jauh di bawah skala investasi raksasa teknologi AS.

Melansir Fortune, Rabu (17/6/2026), fenomena yang disebut sebagai "momen DeepSeek" ini menggeser cara pandang terhadap posisi Tiongkok dalam lanskap AI global. Alih-alih mengejar Amerika Serikat dalam satu lintasan yang sama, Tiongkok justru membangun jalur pengembangan berbeda. 

Herry Han dari Soul Capital menyatakan, "Jika melihat masa depan teknologi secara mendalam, Amerika Serikat dan Tiongkok ibarat dua sisi tai chi, masing-masing memiliki kekuatan unik dan saling mendorong kemajuan. Ini bukan sekadar persaingan, melainkan keseimbangan yang dinamis."

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tetap bertumpu pada investasi besar untuk mendorong pengembangan artificial general intelligence (AGI) dan sistem AI yang semakin otonom. Sebaliknya, perusahaan Tiongkok menghadapi keterbatasan modal, akses cip canggih yang lebih sempit, serta ukuran pasar domestik yang tidak sebesar Amerika Serikat dalam menciptakan skala keuntungan. Kondisi ini mendorong pendekatan yang lebih efisien, berbasis sumber terbuka, dan cepat dalam pengembangan aplikasi.

Keunggulan itu turut ditopang struktur biaya yang lebih rendah. Fortune mencatat, insinyur AI di Tiongkok memperoleh sekitar 402.000 yuan atau setara Rp1,05 miliar per tahun (kurs Rp2.623 per yuan), dengan pasokan talenta doktoral yang mencapai 1,5–2 kali lipat dibandingkan Amerika Serikat serta biaya energi dan pusat data yang lebih murah akibat subsidi daerah.

Namun, tekanan struktural juga signifikan. Investasi asing langsung ke Tiongkok turun lebih dari dua pertiga sejak 2019, sementara pembatasan ekspor cip dari AS membatasi akses terhadap perangkat komputasi kelas atas.

Investor Jun Xu menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada sisi pasar. "Masalah AI Tiongkok bukan cip, model, atau pasokan. Persoalannya adalah permintaan. Permintaan di Tiongkok lebih murah dan lebih kecil," ujarnya.

Dari perspektif industri, CEO Nvidia Jensen Huang menilai pembatasan teknologi justru memicu percepatan inovasi domestik di Tiongkok. Dia menyebut, "Perusahaan-perusahaan lokal sangat berbakat dan sangat bertekad. Pembatasan ekspor memberi mereka semangat, energi, dan dukungan pemerintah untuk mempercepat pengembangan."

Seiring waktu, perusahaan AI Tiongkok mulai memperluas orientasi ke pasar internasional. Cindy Chow, CEO Alibaba Hong Kong Entrepreneurs Fund, mengatakan, "Semua perusahaan rintisan AI di Tiongkok memiliki strategi internasional sejak hari pertama dan Asia Tenggara berada di daftar teratas."

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore