
CEO Anthropic Dario Amodei bersama Mike Krieger dan Sasha de Marigny di San Francisco, California (The Guardian)
JawaPos.com - Persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase baru setelah perusahaan rintisan Amerika Serikat (AS), Anthropic, mengusulkan adanya mekanisme jeda sementara bagi pengembangan AI paling canggih.
Gagasan tersebut muncul ketika industri teknologi tengah berlomba menciptakan sistem yang semakin mandiri, sekaligus memicu perdebatan mengenai batas keamanan dan tata kelola teknologi masa depan.
Usulan itu menjadi sorotan karena datang dari salah satu pemain utama AI dunia yang sedang berkembang pesat melalui model Claude. Anthropic menilai dunia perlu memiliki pilihan untuk memperlambat laju pengembangan AI mutakhir apabila risikonya mulai melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Dilansir dari The Guardian, Senin (8/6/2026), Anthropic menilai model AI mereka, Claude, menunjukkan tren peningkatan kemampuan yang patut dicermati. Perusahaan itu menyatakan bahwa perkembangan tersebut, "jika dibawa lebih jauh dan didukung daya komputasi yang cukup, akan mengarah pada sistem AI yang mampu secara mandiri merancang dan mengembangkan penerusnya sendiri," sehingga berpotensi meningkatkan risiko "manusia kehilangan kendali atas sistem AI."
Karena itu, Anthropic mengusulkan pembahasan bersama yang melibatkan pembuat kebijakan, peneliti, masyarakat sipil, dan perusahaan AI lain. Dalam pernyataannya, perusahaan tersebut menegaskan, "Kami percaya dunia perlu memiliki pilihan untuk memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan AI garis depan agar struktur sosial dan penelitian penyelarasan mampu mengejar laju kemajuan teknologi."
Namun, langkah Anthropic memunculkan pertanyaan karena hampir bersamaan dengan laporan Financial Times yang menyebut perusahaan itu menempatkan insinyurnya di lingkungan National Security Agency untuk membantu penggunaan model AI Mythos dalam operasi siber ofensif. Situasi tersebut memicu kritik mengenai konsistensi sikap perusahaan terhadap isu keamanan AI.
Profesor Steven Murdoch dari University College London menilai dua perkembangan itu tidak mengejutkan. "Anthropic mungkin memberi kesan hangat dan bersahabat, tetapi definisi mereka tentang keamanan AI cukup sempit. Mendukung pengembangan kemampuan ofensif pemerintah Amerika Serikat bukanlah sesuatu yang pernah mereka tolak," ujarnya.
Murdoch juga menilai laporan terbaru Anthropic belum menunjukkan adanya lompatan mendasar dalam kemampuan AI. Menurutnya, "Memang ada bukti bahwa kemampuan AI terus meningkat tanpa batas yang langsung terlihat, tetapi saya tidak berpikir ada sesuatu yang secara fundamental berubah hari ini sehingga mendorong Anthropic menerbitkan laporan tersebut."
Di sisi lain, Anthropic mengakui bahwa AI mereka belum benar-benar mampu meningkatkan dirinya sendiri secara penuh. Meski demikian, perusahaan menyebut sebagian besar pekerjaan untuk menyempurnakan sistem AI kini telah dibantu oleh AI itu sendiri.
Claude disebut mampu menjalankan eksperimen, mempercepat proses pengodean, mengarahkan penelitian, serta mengusulkan eksperimennya sendiri dalam ruang lingkup yang masih terbatas.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
