Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 13.34 WIB

Ancaman Hoaks Berbasis AI Kian Sulit Dikenali, Guru Diminta Aktif Dampingi Anak

Ilustrasi era AI orang tua harus juga tetap secara ketat mengawasi aktivitas anak. (Kenmare Tyres) - Image

Ilustrasi era AI orang tua harus juga tetap secara ketat mengawasi aktivitas anak. (Kenmare Tyres)

JawaPos.com - Di tengah maraknya hoaks, penipuan online, hingga konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI), kemampuan memilah informasi menjadi keterampilan yang semakin penting bagi anak-anak.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai guru dan orang tua kini memegang peran krusial sebagai garda terdepan dalam melindungi generasi muda dari berbagai risiko di ruang digital yang kian kompleks.

Saat ini semakin sulitnya membedakan informasi asli dan palsu di era digital, terutama dengan maraknya penipuan online, hoaks, hingga konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Karena itu, peran guru dan orang tua dinilai semakin penting dalam mendampingi anak saat beraktivitas di internet.

Kepala BPSDM Komunikasi dan Digital, Boni Pudjianto, menyebut guru memiliki posisi strategis sebagai pelindung anak dari berbagai ancaman di ruang digital, termasuk scam digital dan penyebaran informasi menyesatkan yang kini semakin masif.

"Bapak/Ibu guru harus membagikan kepada anak didik mengenai bagaimana kita bisa membedakan hal-hal positif dan negatif, khususnya informasi yang tidak benar," ujarnya di Jakarta, dikutip Jumat (29/5).

Ia menilai tugas guru saat ini tidak berhenti pada proses transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan juga sebagai pembimbing yang membantu membentuk karakter anak agar mampu menghadapi tantangan dunia digital dengan bijak.

“Guru menjadi pemegang kunci utama atau peran pokok yang sangat strategis. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tapi juga pendamping dan pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika di era digital,” lanjutnya.

Menurut Boni, keterlibatan aktif guru diharapkan dapat menciptakan budaya bermedia digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab sehingga anak-anak dapat beraktivitas di internet secara nyaman dan terlindungi.

“Inklusifitas bukan hanya menghadirkan konektivitas atau akses, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, berekspresi, dan terlindungi di ruang digital,” ujar Boni.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore