Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Mei 2026 | 18.39 WIB

Komdigi Ungkap Indonesia Harus Kuasai AI, Bukan Sekadar Pengguna Teknologi

Ilustrasi AI. (Pinterest)

 

JawaPos.com - Indonesia mulai memperkuat langkah untuk masuk dalam persaingan industri kecerdasan artifisial global. Pemerintah kini mendorong pembangunan fondasi teknologi nasional melalui kerja sama sektor semikonduktor dengan sejumlah negara dan perusahaan teknologi dunia guna mempercepat pengembangan ekosistem AI dalam negeri.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria mengatakan Indonesia tidak ingin hanya berperan sebagai konsumen teknologi, melainkan juga menjadi negara yang mampu menciptakan inovasi AI sendiri melalui penguatan sumber daya manusia digital.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi kita ingin talenta digital Indonesia mampu menguasai dasar-dasar teknologi AI dan mengembangkan model AI karya anak bangsa,” jelasnya di Jakarta, dikutip Kamis (21/5).

Menurut Nezar, percepatan pengembangan AI menjadi kebutuhan mendesak karena persaingan global di sektor teknologi tersebut berkembang sangat cepat. Pemerintah pun mulai membangun berbagai kolaborasi strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di industri AI dunia.

Ia mengungkapkan pemerintah telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan sejumlah pelaku industri semikonduktor internasional, mulai dari kawasan Eropa, Jepang, hingga perusahaan desain chip asal Inggris, Arm Holdings.

“Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” ujarnya.

Nezar mengakui Indonesia saat ini masih belum masuk dalam rantai pasok utama industri AI global. Karena itu, pemerintah menilai perlu ada langkah cepat untuk membangun ekosistem industri yang terintegrasi, termasuk menyiapkan talenta digital yang mampu bersaing di sektor teknologi maju.

Ia menjelaskan perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari industri semikonduktor karena teknologi chip menjadi fondasi utama dalam pengembangan komputasi modern, pusat data, hingga GPU untuk kebutuhan AI.

“Kalau kita bicara industri AI, kita bicara bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan talenta digitalnya. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk terlibat lebih jauh dalam industri AI global karena memiliki cadangan sumber daya alam penting yang dibutuhkan dalam produksi semikonduktor, seperti nikel, kobalt, timah, pasir silika, dan zinc.

Namun, menurutnya, selama ini sebagian besar komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonominya belum maksimal.

“Kita punya cukup banyak sumber daya alam yang penting untuk industri semikonduktor. Tetapi sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Nezar juga menyinggung ketatnya kompetisi global pengembangan AI yang kini didominasi oleh Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurutnya, kemampuan menguasai semikonduktor dan kapasitas komputasi akan menjadi faktor utama penentu daya saing sebuah negara di masa depan.

“Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” tegasnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore