
Ilustrasi: Drone. (Istimewa).
JawaPos.com - Tim peneliti dari Tiongkok menciptakan metode baru yang mampu meningkatkan performa baterai lithium-sulfur secara drastis. Inovasi ini dinilai berpotensi membuat drone memiliki waktu terbang jauh lebih lama hanya dengan sekali pengisian daya.
Seperti dilansir dari Xinhua, hasil riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature itu disebut membuka peluang baru bagi pengembangan baterai berdaya tinggi dan berumur panjang, khususnya untuk mendukung industri penerbangan rendah ketinggian hingga teknologi masa depan lainnya.
Saat ini, mayoritas drone masih memakai baterai lithium-ion yang kapasitas penyimpanan energinya mulai mendekati batas maksimal. Kepadatan energinya umumnya masih di bawah 300 watt-jam per kilogram, sehingga daya jelajah drone menjadi terbatas dan memunculkan masalah “range anxiety” atau kekhawatiran kehabisan daya saat terbang.
Baterai lithium-sulfur selama ini dianggap sebagai kandidat pengganti yang menjanjikan karena memiliki kepadatan energi teoritis lebih tinggi, bahan baku sulfur yang melimpah, dan biaya produksi lebih murah.
Baca Juga:TikTok Luncurkan TikTok GO di AS, Pengguna Kini Bisa Pesan Hotel dan Wisata Langsung dari Aplikasi
Namun, teknologi ini terkendala proses reaksi kimia yang rumit saat pengisian dan pengosongan daya. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa perantara larut yang mudah menyebar, memperlambat kinerja baterai, sekaligus menyebabkan hilangnya energi.
Untuk mengatasi masalah itu, tim yang dipimpin oleh Tsinghua Shenzhen International Graduate School memperkenalkan konsep baru berupa “premediator” dalam elektrokimia sulfur.
“Anggap saja sebagai aditif khusus yang ‘tidur’ di dalam baterai sampai dibutuhkan. Ketika reaksi sulfur dimulai, aditif tersebut akan aktif tepat di tempat terjadinya reaksi dan mulai bekerja,” jelas Zhou Guangmin, peneliti di Tsinghua SIGS.
Menurut Zhou, setelah aktif, molekul tersebut akan menangkap senyawa perantara yang larut agar tidak terlepas. Selain itu, molekul itu juga menciptakan jalur reaksi listrik yang lebih cepat sehingga proses kerja baterai menjadi jauh lebih efisien.
Tak hanya itu, para peneliti juga merancang ulang mekanisme reaksi pada level molekuler. Hasilnya, resistansi internal baterai berhasil ditekan hingga 75 persen dibandingkan desain konvensional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
